Sinopsis Mary Stayed Out All Night Episode 16

 

“Aku atau Direktur”, Mu Gyul memberikan pilihan berat pada Mae Ri. Ia tidak bisa memberikan jawaban apapun. Mu Gyul menerimanya sebagai penolakan.
“Itu jawabannya…”, ia menganggu-angguk, serasa tidak percaya. Mu Gyul berdiri dan meninggalkan Mae Ri begitu saja. Gadis itu mulai terisak.
Mu Gyul terus berjalan tanpa menoleh pada Mae Ri lagi. Ia sampai di pintu keluar. Ponsel Mae Ri berdering, dari Tuan Jung.


Ia mengabarkan kalau putranya telah sadarkan diri. (Ckckck…, kalau Mu Gyul mau menunggu sebentar saja. Ia tidak harus menelan kekecewaan dan sakit hati seperti itu. Mae Ri sudah mengatakan dengan jelas, begitu Jung In sadar, itu berarti ia bebas datang ke sisinya). Mae Ri tiba di kamar rawat inap Jung In, Tim Medis baru saja selesai mengecek kondisi Jung In.
Benar, Direktur telah sadarkan diri, meskipun masih terlihat lemah.
Jung In minta waktu secara pribadi pada ayahnya agar meninggalkan keduanya sejenak, ada sesuatu yang harus disampaikannya pada Mae Ri.
Sementara itu Mu Gyul duduk dengan lesu di rumahnya. Ia menganggap keputusan Mae Ri sudah mantap.


Ia memandang sekeliling lalu bangkit untuk mengemasi semua barang Mae Ri yang masih tersisa di rumahnya.Ia memasukkan semuanya ke dalam kardus, alat kosmetik Mae Ri dan barang-barang kecil lainnya. Ia juga melepas tirai pembatas tempat tidur mereka, juga selimut Mae Ri. Peralatan makan yang sengaja di bawa Mae Ri, semuanya.
Tuan Jung masuk kembali, Mae Ri minta diri. “Ayah, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan”, kata Jung In dengan suara yang masih lemah.
“Ya.., katakan.. apa itu”, Tuan Jung ingin tahu. Jung In menarik nafas.
“Aku tidak bisa menikahi Mae Ri..”.
“Omong kosong, kita sudah mempersiapkan segalanya”, Tuan Jung mulai tidak senang. Jung In menutup mata, ketetapan ayahnya masih saja sulit diubah.


“Pengantinku belum siap..”, ujar Jung In kemudian. Tuan Jung mengangguk mengerti, ia melanjutkan ucapannya.
“Setelah upacara pernikahan selesai, Mae Ri juga akan mengubah hatinya”, lanjut Tuan Jung mantap. Ia masih sangat yakin dengan rencananya. Jung In tidak putus asa, ia masih mencoba mengubah pandangan ayahnya.
“Aku sungguh tulus mencintai Mae Ri.. ”.
“Berarti tidak perlu menanyakannya lagi”, sela ayahnya.
“Walaupun begitu.., aku ingin melihat Mae Ri bahagia. Jika bersikeras membuatnya menikah denganku, itu justru akan membuatnya tidak bahagia”. Tuan Jung semakin kesal.
“Kalau sekarang kau berusaha menghentikanku, lebih baik tidak mengatakannya!!”, ujar Tuan Jung dengan tegas.
“Kau berharap aku memiliki kehidupan yang lebih tidak beruntung darimu..”. Agak ragu Jung In melanjutkan ucapannya. Tuan Jung merasa aneh dengan perkataan putranya. Ia diam saja menunggu Jung In menjelaskan maksud ucapannya.
“Ayah… Engkau hidup dengan menyimpan kenyataan bahwa hatimu mencintai wanita lain selain ibu”. Tuan Jung menunduk.


“Walaupun sangat disayangkan. Tapi melihatmu dari satu sisi, aku dan ibu bila dibandingkan engkau lebih tidak beruntung. Jadi untuk terakhir kalinya. Bisakah ayah mempertimbangkan kembali masalah pernikahan ini?”. Sangat berat bagi Jung In untuk harus mengatakan semua hal itu. Ia tahu dengan jelas, wanita lain itu adalah ibu Mae Ri. Tuan Jung mungkin berhasil menutupnya rapat dari ibunya tapi tidak padanya, ia tahu semuanya. Tuan Jung mendesah, tidak tahu harus memberikan jawaban terbaik seperti apa.
“Pembicaraan cukup sampai disini, istrahatlah dengan baik”, ujarnya kemudian dan berlalu meninggalkan putranya. Jung In menghela nafas panjang, setengah frustasi. Ia telah mengatakan semua kenyataan yang sebenarnya tidak ingin dikatakannya, demi mengubah keinginan ayahnya tapi nihil. Usahanya benar-benar tidak ada gunanya.
Mu Gyul masih sibuk membereskan barang-barang Mae Ri ketika gadis itu tiba. Setengah berlari ia masuk dan menemui Mu Gyul.


“Kang Mu Gyul.., inilah jawabanku, bodoh!”. Mu Gyul memandanginya hampir tak percaya. Ia melempar kardus barang yang telah dikemasinya tanpa peduli. Ia memeluk gadis itu seolah-olah barang kesayangannya telah kembali.


“Terima kasih, untuk memilih kembali ke sisiku”. Ia melepas pelukannya dan membelai halus rambut Mae Ri.
“Sekalipun sudah terlambat, tapi Merry Christmas..”, lanjutnya.


“Aku juga.., Selamat Natal”, balas Mae Ri dengan tersenyum.
“Selama engkau di sampingku, itu akan selalu menjadi Natal terindah”, lanjutnya. Ponsel Mu Gyul berdering, dari Jung In. Mu Gyul mendengus, ia tidak suka tapi Mae Ri dengan bijak memintanya menjawab panggilan itu.
“Kang Mu Gyul-Ssi…, walaupun sangat berat mengatakannya, tapi bisakah engkau datang ke Rumah Sakit? Tentang masalah kita, aku akan menunggumu dan Mae Ri”. Jung In menutup telepon, Mu Gyul terlihat tidak nyaman. Mae Ri menggenggam tangannya, mencoba menguatkan Mu Gyul.
Di rumahnya, Tuan Jung sibuk dengan pikirannya sendiri. Semua ucapan putranya bukan tidak berefek apa-apa padanya. Agak lama ia terdiam, larut dengan pikirannya sendiri, sebelum sejurus kemudian, sedikit ragu ia mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi calon besannya, Wi Dae Han. Sedikit berbasa-basi mengabarkan kalau putranya sudah sadar. Wi Dae Han senang mendengarnya. Lalu Tuan Jung mengatakan maksud sebenarnya. Ia ingin melanjutkan pernikahan Jung In dan Mae Ri. Wi Dae Han menyarankan menunda pernikahan sampai kesehatan Jung In benar-benar pulih. Tuan Jung bersikeras, ia tidak ingin menundanya. Ia juga meminta Wi Dae Han untuk memberitahukan hal itu pada Mae Ri. Ia menutup telepon. (Ckckckckk…, dua ayah diktator ini tidak pernah ada sadarnya.)
Mu Gyul mendatangi Jung In di Rumah Sakit.
“Terima kasih, engkau mau datang kesini”, ujar Jung In.
“Langsung saja ke inti pembicaraan”, jawab Mu Gyul tanpa berniat mengubah arah bicaranya. Ia berdiri menghadap jendela, memunggungi Jung In. Direktur setuju.
“Aku akan melangsungkan pernikahan”. Mu Gyul sedikit bereaksi. Ekor matanya memandang Jung In.
“Kupikir pernikahanku akan menjadi peluang membuka perselisihan dan ketulusanku padamu”, lanjutnya.
“Apa kau sadar, sedang membicarakan hal yang tidak jelas?”, kali ini Mu Gyul mengubah posisi berdirinya dan menghadap Jung In.
“Apakah kau percaya, itu tidak penting! Aku hanya manusia yang bisa membahasakan bahasa manusia”, sela Jung In.


“Walaupun aku tidak mengerti, tapi aku mendengarkan”, ujar Mu Gyul sembari berlalu dari sana.
“Lalu kau akan tahu, ini sudah berakhir”, gumam Jung In selepas Mu Gyul pergi.
Mae Ri sedang beres-beres, ia mengeluarkan kembali barang-barangnya yang telah dikemasi Mu Gyul. Ponselnya berdering, dari ayahnya. Mae Ri agak ragu menjawabnya tapi kemudian memutuskan menerima panggilan ayahnya. Wi Dae Han menanyakan dimana sebenarnya ia berada. Mae Ri memutar otak dengan cepat, berbahaya kalau ayahnya tahu ia sedang di tempat Mu Gyul. Mae Ri berbohong sedang di kedai kopi. Wi Dae Han segera tahu putrinya sedang berbohong, Tuan Jung sudah memberitahu ayahnya kalau dirinya sudah pergi dari rumah sakit. Mae Ri tidak bisa bohong lagi, Wi Dae Han menyuruhnya kembali, ia ingin membahas sesuatu tentang pernikahan dengannya. Selepas mengatakannya, ia langsung menutup telepon.
Mae Ri tidak ada pilihan lain. Enggan dan kesal ia mengambil mantelnya dan berjalan keluar. Wi Dae Han sudah menunggunya di rumah. Tanpa basa-basi ayahnya mendudukan Mae Ri di sofa dan membahas pelaksanaan pernikahannya.


Wi Dae Han memberitahunya untuk mempersiakan pernikahannya. Mae Ri hanya mendesah panjang, membuat ayahnya keheranan, kenapa tiba-tiba putrinya tidak memberontak seperti biasanya.
Mae Ri sadar, memberontakpun tidak akan mengubah apa-apa. Ia sudah melakukannya berkali-kali dan tidak berpengaruh apapun. Tuan Jung dan ayahnya tidak pernah mempertimbangkan pendapatnya dan tetap bersikeras melangsungkan rencana pernikahan mereka. Wi Dae Han tidak enak hati mendengar ucapan putrinya. Ia mencoba membujuk Mae Ri, berharap bisa menyenangkannya.


“Mae Ri.., ayah… bukan karena ayah Jung In adalah orang kaya sehingga bertindak seperti ini.. Juga bukan karena ia membantu keuangan ayah hingga bertindak seperti ini.. Karena keyakinan ibumu menikah denganku, tapi hasilnya seperti ini. Apakah melawan dengan memulai perlindungan pada cinta akan menjadi sulit? Jika tidak bisa menghadapi kenyataan, hanya akan menjadi racun saja”, Mae Ri hanya diam mendengarkan apa yang katakan ayahnya. Wi Dae Han mengambil tangan putrinya.
“Mae Ri.., ayah.. di dunia ini yang paling penting adalah kebahagiaanmu”, Wi Dae Han terus berusaha meyakinkan putrinya. Mae Ri mendesah panjang, tidak tahu harus menjawab apa.


Mu Gyul sedang duduk di ayunan ruang tamunya sambil memainkan gitar akustiknya. Ia berhenti dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Sebuah pesan dari Mae Ri, “Mu Gyul yah.., sedang apa?”. Gadis itu sedang duduk menyendiri di kamarnya. Mu Gyul membalasnya. “Hanya mencoba menyenangkan diri”. Mae Ri mengirim pesan lagi.


“Ada sesuatu yang ingin ku katakan…”. Pesan terkirim, Mu Gyul menerima dan membacanya, ia menuliskan pesan lagi pada Mae Ri, “Kalau begitu telpon saja, kenapa hanya mengirim pesan?”
“Aku ingin memahami kesedihanmu, dibandingkan berbicara, aku merasa ini lebih nyaman”.
“Kau sepertinya ingin mengatakan hal yang serius”.
“Mu Gyul-yah, berikan aku waktu tiga hari. Jangan duduk di sana dan bersedih. Percaya padaku, berikan aku waktu tiga hari”. Keduanya terus saling membalas sms. Kesimpulan terakhir, Mu Gyul sepakat, ia tidak memaksa Mae Ri menjelaskan maksudnya saat itu. Mereka sepakat akan bertemu di taman, tempat keduanya biasa bertemu. Taman bermain, pukul 4 sore, tiga kari kemudian. Mae Ri senang, Mu Gyul dapat mengerti keadaannya. Ia berjanji akan berada di sana tepat waktu.
Hari pernikahan tiba. Mae Ri dan Jung In sedang dirias untuk pernikahan mereka. Mae Ri mengirim pesan pada Mu Gyul, mengingatkan untuk menunggunya. Mu Gyul berjalan santai menuju taman, ia teringat saat melewati jalan itu bersama Mae Ri. Saat ketika ia membonceng Mae Ri dengan sepeda demi menghindari kejaran Wi Dae Han, ayah Mae Ri. Taman itu penuh dengan kenangan keduanya. Ia melihat perosotan dan teringat saat Mae Ri mengikutinya seharian demi mendapatkan persetujuannya agar bersedia melakukan pernikahan palsu dengannya. Mu Gyul tersenyum, ia benar-benar tidak tahu kalau hari itu adalah hari pernikahan Mae Ri dan Jung In.


Di tempat pesta pernikahan Jung In dan Mae Ri, para tamu mulai berdatangan. Wi Dae Han terlihat berbeda dengan balutan jasnya yang begitu rapi. Ia menyapa para tamu dengan hati riang. Sama halnya dengan Tuan Jung, ia terlihat sangat bahagia, sangat kontras dengan Jung In yang berdiri di sebelahnya dengan ekspresi dingin. Seo Jun juga datang, ia tersenyum dan menghampiri direktur. Menyelamatinya dengan tulus.
“Akhirnya menikahi Mae Ri”, ujar Seo Jun.
“Di dunia ini, ada hal yang tidak ingin kita lakukan tapi justru terjadi”, jawab Jung In. Seo Jun terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya.
“Terlihat agak sulit tapi akhirnya engkau menikah. Semoga engkau bahagia”. Jung In mengangguk-angguk kecil. Terlihat cool, tapi tidak setelah Seo Jun berlalu. Ia menghela nafas panjang dengan kasar. Seolah ingin mengeluarkan semua udara kotor dalam paru-parunya dalam sekali hembusan nafas.
Di taman, Mu Gyul membuka kotak gitarnya. Ia duduk di tempat yang sama saat Mae Ri menungguinya, di bawah perosotan. Memainkan gitar sembari menunggu gadis yang dicintainya. Ia baru saja akan memetik gitarnya saat ponselnya berbunyi, sms dari Mae Ri. “Tunggu aku, kita akan bertemu sebentar lagi”. Mu Gyul tersenyum membacanya, ia lalu menyimpan ponselnya dan mulai memainkan gitarnya. Tidak peduli dengan salju yang turun.
Mae Ri sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Ia terlihat anggun dalam dandanan naturalnya. Tapi tetap saja, suasana hatinya yang buruk tidak bisa disembunyikan, walaupun dengan polesan make-up seperti itu. Penata rias merapikan pakaiannya dan berkomentar agar ia membuang jauh perasaan tidak nyamannya dan menikmati hari terbaik dalam hidupnya, pernikahannya. (Hm, andai piñata rias itu tahu hal sebenarnya, ia pasti tidak akan berani menyarankan hal itu pada Mae Ri).


Wi Dae Han mendatangi Mae Ri dan mengangsurkan sekotak minuman. Ia khawatir putrinya terlalu sibuk dan lupa makan, minum susu kotak setidaknya bisa memberikan sedikit asupan tenaga untuknya. Tapi Mae Ri menolak, ia tidak sedang ingin minum apa-apa. Wi Dae Han merasa aneh, ia juga tidak melihat teman-teman Mae Ri. Biasanya So Ra dan Ji Hye paling bersemangat apapun tentang Mae Ri. Terlihat aneh bila hari pernikahan sahabatnya tiba dan mereka tidak muncul sama sekali. Mae Ri diam saja (sepertinya ia memang sengaja tidak memberitahukan mereka).
Seperti biasa, Wi Dae Han dengan cepat bisa mengubah suasana hatinya. Ia tidak menghiraukan teman-teman Mae Ri yang tidak datang, ia bergumam senang akhirnya putrinya benar-benar menikah dengan Jung In, pria pilihannya. Ia begitu terharu dan memandang ke atas, berdialog dengan istrinya seolah-olah ibu Mae Ri juga disana menyaksikannya. Penata rias mencairkan keharuan Wi Dae Han dan memintanya berfoto dengan putrinya. Ia setuju.
Seo Jun mencari-cari teman band Mu Gyul tapi tidak menemukannya, akhirnya ia memutuskan menghubungi Leo (teman band Mu Gyul). Seo Jun bertanya kenapa mereka tidak datang di pesta pernikahan Mae Ri, ia sudah disana sejak tadi tapi tidak satupun dari mereka terlihat disana. Leo terkejut mendengar ucapan Seo Jun dan menyangka gadis itu sedang bercanda. Seo Jun melanjutkan ucapannya, sedari tadi ia sudah berada di tempat pernikahan Mae Ri dan Jung In, bagaimana ia bisa bercanda? Leo terkejut bukan main, buru-buru menutup telpon dan bergegas.
Di taman, di bawah salju yang terus turun, Mu Gyul bernyanyi dengan riangnya. Ia berdendang sembari menunggu Mae Ri datang, begitu banyak yang menyukai suaranya, mereka bahkan bersedia bergabung dengan Mu Gyul menikmati lagunya di bawah salju. Ia menyelesaikan lagu dengan baik, semua memberikan tepuk tangan yang meriah untuknya. Tepat saat itu teman-teman bandnya lengkap bersama So Ra dan Ji Hye datang tergopoh-gopoh mendatanginya.
Mereka memberitahu Mu Gyul tentang pernikahan Mae Ri dan Jung In yang sedang berlangsung sekarang. Mu Gyul tersenyum tidak percaya. Leo dengan geram mengatakan kalau Seo Jun sendiri yang menghubunginya tadi. Ji Hye juga angkat bicara, tidak percaya kenapa Mae Ri bisa menyembunyikan hal itu dari mereka.
Teman-temannya semakin ribut. Bagaimana Mu Gyul bisa duduk saja disana, ia seharusnya mencegah pernikahan itu terjadi. Semua mendukung usulan itu. Mu Gyul berdiri dengan panik, ia menyerahkan gitarnya dan berlari menerobos salju.


Kelimanya menyemangati Mu Gyul untuk membawa Mae Ri pulang bersamanya. (Wow, Mu Gyul terlihat seperti prajurit yang sedang di lepas di medan juang, begitu banyak dukungan yang mengalir untuknya).
Pernikahan segera dimulai, beberapa orang diutus untuk menjemput Mae Ri, ia harus keluar sekarang. Sambil berlari, Mu Gyul menghubungi Mae Ri, tapi ponsel gadis itu sudah diamankan piñata rias saat mendandaninya tadi. Mae Ri tidak menjawab. Setengah frustasi Mu Gyul menutup pangilannya dan berlari sekuat tenaga, tidak ingin ia terlambat dan menyesal seumur hidupnya.
MC mempersilahkan pasangan pengantin masuk, musik lembut dari gesekan biola mulai mengalun (sama seperti musik pembuka di episode pertama, saat adegan pernikahan outdoor antara Mae Ri dan Mu Gyul).
Jung In berjalan dengan mantap menjemput Mae Ri, Mu Gyul masih terus berlari. Wi Dae Han masuk ruang resepsi dengan menggandeng tangan putrinya. Mae Ri terlihat sedih. Di depan altar, Jung In menunggu Mae Ri, setelah membungkuk hormat pada Wi Dae Han, gantian ia yang menggandeng lengan Mae Ri. Wi Dae Han sangat terharu dan tidak mampu menahan air matanya. Ia menghapusnya dan bergegas ke arah lain. Kedua mempelai berjalan menuju altar, penghulu sudah menunggu disana.
Mu Gyul tiba tepat ketika prosesi pernikahan dimulai. Ia sangat terkejut, tidak percaya akan menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri. Nafasnya masih tersengal-sengal, ia maju selangkah, berniat menghentikan tapi urung. Ia melihat Mae Ri tersenyum pada Jung In, terlihat bahagia.


Mu Gyul trenyuh, hatinya sakit, sedih dan kecewa menjadi satu. Tubuhnya bergetar, matanya merah menahan air mata. Ia tidak sanggup, baginya senyum Mae Ri adalah jawaban segalanya. Ia menyangka gadis itu telah membuka hatinya untuk Jung In.


Ia beringsut pergi, dengan wajah pasi dan lesu. So Ra, Ji Hye dan teman-teman bandnya menghampiri Mu Gyul, menanyakan hasilnya. Tapi ia diam saja, itu cukup menjelaskan semuanya. Kelimanya tidak puas dan ingin memastikan sendiri. Mereka membelah kerumunan tamu dan menyaksikan Mae Ri dan Jung In di depan penghulu.
“Apakah kau bersedia mencintai pasanganmu seumur hidupmu”, ujar penghulu. (Heheh.. aku kurang tahu pertanyaan tepatnya seperti apa. Harap maklum, saya tidak familiar dengan prosesi pernikahan protestan^^). Jung In diam saja, dan tidak memberikan jawabannya. Wajah Wi Dae Han yang semula sumringah mulai berubah. Ia mulai cemas, Tuan Jung pun demikian. Seo Jun mulai tegang, begitu juga para tamu, semua mulai riuh, penghulu sama bingungnya. Ia mengulang pertanyaannya lagi, apakah bersedia mencintai Mae Ri seumur hidupnya.
“Iya, saya bersedia”, Tuan Jung menghela nafas lega.
“Tapi….”, lanjut Jung In. Tuan Jung mulai cemas, ia memandang lurus melalui punggung putranya.
“Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini!”, ujar Jung In dengan tegas. Mae Ri menutup mata, mencoba menahan keharuannya. Jung In memenuhi janjinya. So Ra dan yang lain sama terkejutnya dengan semua orang-orang yang hadir di tempat itu. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Jung In berbalik menghadap para tamu dengan mantap dan berharap pendapat mereka. Mae Ri masih menghadap altar. Jung In menjelaskan kalau pernikahan itu adalah perjanjian dan pengaturan dari kedua orang tua mereka.  Ia tidak bisa melanjutkan pernikahan karena dirinya dan Mae Ri sama sekali tidak berniat menjadi suami istri.
Tuan Jung berang, ia berdiri dan berteriak dengan kesal dan marah pada Jung In. Teriakannya pada putranya bergema dengan sempurna, semua orang adegan itu dalam diam. Wi Dae Han tidak kalah terkejutnya, ia bertanya dari tempat duduknya, apa yang sebenarnya yang sedang dilakukan Jung In. Mae Ri berbalik, buka suara.
“Maaf.., tapi kita harus melindungi cinta yang kita pilih”, kata Mae Ri dengan mantap.


“Mae Ri….Bagaimana kau…”, Wi Dae Han masih tidak percaya.
“Maafkan aku ayah..”, ujarnya dengan tulus pada ayahnya. Wi Dae Han dan Tuan Jung terduduk lesu. Tidak percaya dengan semua itu. Jung In meraih tangan Mae Ri dan menuntunnya turun dari altar, meninggalkan penghulu yang kebingungan juga semua tamu yang sama bingungnya dengan penghulu.


Di ruang tunggu, Jung In melepas dahaganya. Mae Ri muncul, ia sudah berganti pakaian. Jung In memandangi gadis yang dicintainya, yang hampir saja menjadi istrinya sedetik yang lalu. Mae Ri berganti pakaian dengan cepat. Pandangan keduanya bertemu, lalu bungkam.


“Semoga beruntung”, ujar Jung In kemudian.
“Kau juga”, balas Mae Ri. Ponsel Mae Ri berdering, dari So Ra. Sahabatnya itu masih bersama yang lain, menunggunya di ruang resepsi. Ji Hye mengambil ponsel So Ra, ia komplain atas tindakan Mae Ri yang telah membuat mereka ketakutan setengah mati. Ponsel So Ra berpindah dengan cepat, teman-teman Mu Gyul ikut angkat bicara. Mereka ribut mengabarkan kalau Mu Gyul juga ada disana tadi, bahkan pulang dengan wajah sedih karena salah paham lagi. Mae Ri terkejut mendengarnya. Ia minta diri pada Jung In.


Mu Gyul tiba di rumahnya dengan lesu, seakan kehabisan cadangan semangat. Ia berusaha keras menahan air matanya.
Ia mengeluarkan kalung berleontin kucing dari sakunya. Mendesah panjang, sepertinya kalung itu tidak akan pernah sampai pada orang yang harus memilikinya. Ponselnya bordering, dari Seo Jun. Tapi ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Ia menonaktifkan ponselnya.
Mae Ri sedang dalam perjalanan, begitu mengkhawatirkan Mu Gyul padahal ia sudah mengatakan dengan jelas agar tidak menyerah. Mae Ri lalu meminta supir taksi lebih cepat. Mae Ri tidak bisa tenang, berulang kali ia meminta sopir taksi lebih cepat, urusannya sangat mendesak. Ia turun dari taksi dan berlari menuju taman.
Seo Jun tiba di tempat Mu Gyul. Ia mencari-cari Mu Gyul, ternyata yang dicari sedang meringkuk dengan malas di balik selimut. Sepertinya Mu Gyul tidak menemukan cara terbaik mengobati kesedihannya selain tidur, mungkin menurutnya tidur bisa membuatnya lupa sejenak pada dunia.


Seo Jun berusaha membangunkan Mu Gyul, tapi pria itu tidak mau diganggu, ia menyuruh Seo Jun pergi. Seo Jun hampir putus asa, Mu Gyul masih enggan membuka matanya.
“Upacara pernikahan…, kalau kau bersedia menunggu sebentar saja, kau akan menyaksikan pemandangan yang sangat menarik”, ujar Seo Jun akhirnya. Tapi pria patah hati itu justru berteriak dengan kasar menyuruhnya pergi.
“Direktur dan Mae Ri kabur, pesta pernikahan mereka batal!”, kata Seo Jun dengan nada agak kesal.
“Apa? Kau bilang mereka kabur?”, Mu Gyul bangun, memastikan pendengarannya. Seo Jun mengulangnya lagi, Mu Gyul tidak salah dengar. Kedua calon pengantin itu memang tidak menikah. Mu Gyul melompat dari tempat tidurnya, menyambar jaket dan bergegas ke taman, meninggalkan Seo Jun tanpa sepatah katapun.
“Mae Ri, tunggu aku sedikit lagi”, gumam Mu Gyul sambil berlari sekencang-kencangnya. Kali ini hatinya penuh rasa bahagia.
Sementara itu, Tuan Jung sedang mengadili Jung In atas tindakannya tadi. Tuan Jung marah besar, setelah tindakan memalukannya di depan umum, Jung In masih berani mengunjungi rumahnya? Setelah semua itu, ia menyuruh putranya pergi, tidak sudi melihatnya lagi.


Jung In minta maaf telah bertindak sejauh itu. Ia terpaksa melakukan itu, hanya itu satu-satunya cara untuk mengakhiri semua desakan pernikahan yang dilakukan ayahnya.
“Aku mencintai Mae Ri.. tapi… Aku tidak bisa membiarkan dia, menjadi pengganti cinta ayah pada ibu Mae Ri. Tidak bisa melakukan itu pada putri bibi”, Jung In tahu tindakan ayahnya yang memaksanya menikahi Mae Ri semata-mata untuk memuaskan keinginan ayahnya untuk memenuhi cintanya yang tak terbalas oleh ibu Mae Ri. Tuan Jung murka, geram Jung In mengatakan semua kebenaran itu.


Wi Dae Han masuk, ia mendengar semuanya. Ia tidak menyangka Tuan Jung melakukan semua itu karena menyimpan rasa cinta pada istrinya. Bahkan tega menyuruh putranya sendiri menikahi Mae Ri untuk memuaskan keinginannya. Wi Dae Han sangat terpukul dan berlalu dari sana, tidak ingin mendengar penjelasan apa-apa lagi dari Tuan Jung. Apa yang ditangkap telinganya sebelumnya sudah cukup menjelaskan semuanya. Tuan Jung terduduk, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Akhirnya semua kebenaran itu terbuka.
Mu Gyul tiba di taman. Masih ngos-ngosan ia mencari Mae Ri. Ia akhirnya menemukan Mae Ri, gadis itu sedang duduk di tangga perosotan sembari menahan dingin. Keduanya akhirnya bertemu.


“Aku menunggumu untuk waktu yang lama..”, ujar Mae Ri dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca.
“Maaf… Aku benar-benar minta maaf”, Mu Gyul tidak kalah terharunya. Matanya mulai basah. Mae Ri mengatakan kalau ia dan direktur sudah berakhir.


“Aku dan direktur sudah berakhir. Tapi kau tak disini, aku benar-benar takut..”, lanjut Mae Ri.
Mu Gyul menelan ludah, ia paham posisi Mae Ri. Ia meminta maaf, bukan karena bersalah tidak mempercayainya tapi karena ia tidak punya keberanian untuk percaya pada dirinya sendiri, bahkan begitu mudah untuk marah pada Mae Ri.


Ia memeluk Mae Ri sembari terus meminta maaf, sekarang air mata pria itu tidak kompromi lagi. (Hm, bakat akting ini yang sangat aku suka dari Jang Geun Suk. Ia aktor yang total. Karakternya sama kuat dengan akting Moon Geun Young. Karena alasan ini aku berani membuat sinopsis dan mengecek youtube hampir setiap malam hanya untuk mengecek apa video English subtitle-nya sudah terbit. Heheheh.. Aku menikmatinya, tidak rugi telah mengambil keputusan menuliskan sinopsis ini^^).
Keduanya kembali ke rumah Mu Gyul. Mae Ri duduk di depan pemanas sederhana milik Mu Gyul, berusaha menghangatkan badan, menunggu lama membuat tubuhnya kedinginan. Mu Gyul datang sembari membawakan segelas air hangat. (Hm, hubungan keduanya akhirnya kembali seperti semula). Mae Ri menerimanya dengan senang, keduanya tersenyum.


Mae Ri lalu menceritakan kalau sejak direktur masih di rumah sakit, Jung In sudah melepasnya. Ia menyuruh Mae Ri membawa surat cerai dan menandatangani gugatan cerai keduanya. Hanya saja ia tidak bisa menceritakan hal itu pada siapapun. Mu Gyul merasa bersalah mendengarnya, ia baru mengerti ternyata itu maksud Jung In tempo hari.
Mae Ri tersenyum, karena itu ia meminta Mu Gyul untuk tidak membenci direktur. Mu Gyul mengerti, ia mengambil tangan Mae Ri dan meminta gadis itu menutup matanya. Mae Ri curiga, Mu Gyul sedang ingin menggodanya lagi. Mu Gyul tertawa, benar-benar… Mae Ri tersenyum, ia setuju menutup matanya. Mu Gyul merogoh sakunya dan tattaaadaaa…


Ia mengeluarkan kalung berleontin kucing yang sudah sedari dulu selalu batal berjumpa dengan tuannya. Mae Ri membuka mata, tersenyum melihat kalung itu. Ia bertanya apakah itu kucing? Mu Gyul mengangguk manis dan mengatakan kalau harusnya itu menjadi hadiah natal untuk Mae Ri. Mae Ri tersenyum, tidak masalah baginya, gadis itu berterima kasih dan menghadiahkan Mu Gyul kecupan kecil di pipinya. Mu Gyul tersenyum. Keduanya bahagia.
Berbeda 180 derajat dengan Jung In. Ayahnya yang marah besar mengutus orang-orang suruhannya untuk membereskan rumah Jung In, semua perkakas dari rumah mewah itu dikemasi. Pengurus rumah bahkan dengan sedih memberikan koper Jung In, itu perintah Tuan Jung dan ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Jung In mengerti, ia hanya terdiam memandangi orang-orang suruhan ayahnya membereskan isi rumahnya, rumah itu bukan miliknya lagi sekarang. (Tuan Jung benar-benar ayah yang menakutkan, ia tidak mau mengakui Jung In sebagai putranya lagi). Jung In mengambil koper berisi barang-barangnya dan berlalu.
Jung In mengadakan rapat kecil di JI Entertainment, perusahaannya. Sengaja mengumpul beberapa dari mereka sehubungan dengan kondisi perusahaan yang berubah drastic pasca pembatalan pernikahannya (Ini pasti juga kerjaan Tuan Jung).
“Walaupun para sponsor meninggalkan kita satu persatu, tapi jika setiap orang masih memberikan kepercayaan kepada saya, saya percaya perusahaan akan memiliki masa depan yang baik”, Jung In tetap yakin. Ketulusannya tersambut baik dari para stafnya. Mereka percaya penuh pada Jung In, juga pada drama yang sedang mereka produksi.
Keesokan paginya, Mae Ri pulang ke apartemennya. Tentu saja setelah membuat sarapan untuk Mu Gyul. Ia meninggalkan pesan, sebab Mu Gyul masih tertidur dan gadis itu sama sekali tidak berniat membangunkannya. Mae Ri merapikan selimut Mu Gyul sebelum kemudian beranjak dari sana.
Ia sedang berjalan kaki ketika direktur menghubunginya. Keduanya bertemu dan bercakap-cakap ringan membahas masalah mereka. Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula. (Hahahha, itu menurut Mae Ri, sekarang di hati Jung In hanya ada Mae Ri seorang, bagaimana bisa Jung In mengakui semuanya telah kembali seperti semula^^). Jung In bertanya-tanya bagaimana seandainya pertemuan mereka terjadi lebih alami (bukan karena campur tangan orang tuanya), apa kira-kira yang terjadi sekarang. Mae Ri mencoba tersenyum, berterima kasih atas segalanya. Jung In juga, ia telah banyak menyusahkan Mae Ri sejak gadis itu harus bertindak sebagai istrinya. Kali ini Mae Ri tersenyum lepas, ia minta diri dan beringsut pergi.

Untuk sejenak Jung In tetap disana, memandangi punggung Mae Ri yang menjauh. Ia tertegun tapi sejurus kemudian memutuskan mengambil arah yang berlawanan. Ia juga harus melanjutkan hidupnya.
Mae Ri menemui ayahnya, Wi Dae Han terlihat tidak baik. Ia bahkan membalut kepalanya dengan pembalut kecil. Setengah frustasi pasca pembatalan pernikahan di depan umum juga karena dirinya mengetahui kenyataan bahwa Tuan Jung juga mencintai istrinya. Mae Ri mencoba membujuk ayahnya yang tidak sudi melihatnya.
“Ayah…, apa kau akan mengabaikan aku seumur hidup??”, tanya Mae Ri, Wi Dae Han masih memunggunginya.
“Aku tahu telah berbuat salah…”, lanjut Mae Ri. Tapi Wi Dae Han yang suasana hatinya sedang buruk malah menyuruh putrinya berhenti mengajaknya bicara, ia tidak mau melihat Mae Ri lagi (Nah, lo. Apa Wi Dae Han akan mengusir Mae Ri juga seperti yang dilakukan Tuan Jung pada Jung In??). Mae Ri menunduk, ia meminta maaf pada ayahnya. Ia juga tidak tahu apa-apa. Wi Dae Han berbalik, membuat Mae Ri sedikit terkejut. (Yah, seperti biasa. Emosi Wi Dae Han pasang surut dengan cepat^^).
“Sebenarnya aku juga berfikir tidak baik menyalahkanmu”, ujar Wi Dae Han. (Hehehehh, memang ayah yang aneh. Mae Ri bahkan tercengang mendengarnya. Sedetik yang lalu ia memarahi putrinya tapi sekarang wajah ayahnya mulai berseri-seri^^).
“Mengapa sampai terpikir menikahkanmu dengan Jung In?”, guman ayahnya. Mae Ri terang saja kebingungan dengan maksud perkataan ayahnya. Bukankah dulunya dia sangat bersemangat. (Hahahha, memang Wi Dae Han aneh koq^^). Wi Dae Han mengatakan kalau Tuan Jung bertindak terlalu berlebihan. Ia bahkan tega mengusir putranya sendiri. Mae Ri terkejut mendengarnya. (Wi Dae Han tidak menyinggung bagian bahwa Tuan Jung juga mencintai ibu Mae Ri).
Mu Gyul sedang bekerja di studio mininya saat Mae Ri menelpon. Ia bertanya kenapa Mae Ri tidak membangunkannya saat pulang tadi pagi. Tapi Mae Ri tidak menjawabnya, membuat Mu Gyul menyangka ia kena marah dari ayahnya. Ternyata gadis itu menghubunginya karena khawatir Jung In mengalami kesulitan karena dirinya.

“Sekarang kau mengkhawatirkan mantan suamimu di depanku?”, ujar Mu Gyul sambil tertawa ringan. (Jelas sekarang, ia tidak mengkhawatirkan Jung In lagi. Mae Ri adalah miliknya seorang. Hahahahha). Mae Ri cepat-cepat meralat ucapannya, mengatakan kalau bukan itu maksudnya. Mu Gyul tersenyum, ia berjanji akan mencari solusi terbaik. Mae Ri berterima kasih. Ia juga mengatakan kalau ayahnya sedang kurang sehat, jadi kemungkinan malam hari baru akan ke tempat Mu Gyul. Mu Gyul maklum. Mae Ri merogoh sakunya dan mengeluarkan kalung berleontin kucing miliknya. Ia tersenyum dan berucap terima kasih Kang Mu Gyul pada leontin kucing itu. (Memang Mu Gyul si kucing liar dan Mae Ri si anak anjing. Ejekan keduanya ini menghilang di episode pertengahan, sepertinya di episode terakhir penulis scenario sengaja mengembalikannya. Hm, I like it!)
Jung In tidur dengan gelisah di kursi panjang di kantornya. Tidak biasa tertidur dengan cara seperti itu. Ia akhirnya menyerah dan duduk memandangi bantal kursi yang beralih fungsi menjadi bantal kepalanya. Ia memutar otak, mencari posisi tidur yang paling nyaman. Ia mencoba berbagai macam gaya, tapi tetap saja tidak menemukan posisi paling nyaman. Ia menyerah. Salah satu karyawannya masuk dan terkejut melihat direktur masih di sana di jam seharusnya ia ada di rumah. Jung In pasang wajah cool, berpura-pura sedang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Karyawannya mengerti dan menawarkan secangkir kopi, Jung In mengiyakan.
Jung In menurunkan dua koper besar yang ditentengnya. Yapz, ia di tempat Mu Gyul.

Ia mengumumkan kalau dirinya akan tinggal disana untuk sementara. Mu Gyul menatapnya dengan pandangan aneh.

Jung In juga mengatakan rencananya mengeluarkan single untuk Mu Gyul, Seo Jun juga akan berpartisipasi dengannya karena itu Mu Gyul harus mempesiapkan diri, lalu…
“Apakah kau punya sesuatu untuk dimakan”, lanjutnya tanpa menunggu reaksi Mu Gyul, Jung In bertindak seolah-olah ia punya hak tinggal disana dan sama sekali tidak merasa canggung^^.
“Apa???”, Mu Gyul merasa aneh. Jung In menyadari ucapannya.

Anggap aku tidak mengatakan apa-apa”, ujarnya kemudian dan menyibukkan diri dengan barang-barangnya. Mu Gyul mendengus kesal. Jung In duduk dengan tenang di sofa sambil menyibukkan dirinya dengan membaca buku. Mu Gyul menghampirinya dan menurunkan seonggok selimut.
“Kau tidur di sofa”, ucapnya kemudian. Jung In memandangnya, menutup buku dan meletakkannya.
“Aku hanya bisa tidur di tempat tidur”, kata Jung In. Ini alasannya kenapa kemudian dengan tebal muka ia mendatangi tempat Mu Gyul. Ia sudah cukup frustasi dengan sofa di kantor yang sama sekali tidak membantu.
“Apa maksudmu? Kau lihat sendiri, hanya ada satu tempat tidur disini”, kata Mu Gyul. Jung In berdiri menyarankan memasang tirai pembatas di tengah sehingga mereka bisa berbagi tempat tidur. Jung In bergegas menuju tempat tidur untuk melaksanakan idenya, tapi Mu Gyul menahan tangannya.

“Ini rumahku, dan aku punya aturan sendiri”, ujarnya. Ucapan yang sama dengan yang dikatakan Jung In padanya saat tinggal di rumahnya tempo hari. Jung In berhenti dan memandang Mu Gyul, ia familiar dengan ucapan itu. (Hahhahaha, ya iyalah. Produser bahkan memperlihatkan flash back adegan saat dirinya mengatakan itu pada Mu Gyul). Malu-malu, ia akhirnya mengalah dan mengambil selimut, juga bantal sofa model kepala kucing yang akan disulap menjadi bantal kepalanya.

Ia mencoba berbaring di sofa. Mu Gyul mengawasinya dengan wajah masam dan tangan bersedekap, tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri. Mu Gyul mencoba menyinggung tentang Mae Ri tapi Jung In justru mengatakan hal yang tidak ingin di dengarnya. Ia urung untuk membahas hal itu dan meninggalkan Jung In. Sepertinya memilih tidur dengan segera lebih baik untuknya.
Mu Gyul dan Jung In sedang berkendara dengan van Mu Gyul. (Dan… percaya atau tidak, Jung In menyetir van untuk Mu Gyul. Hahahahahah, kacau abis. Aku dapat bocoran dari sumber yang dapat dipercaya, episode 15 dan 16 ini banyak diubah oleh Jang Geun Suk. Ide untuk scene ini murni dari JGS. Hebaattt!! Selain bakat akting, bisa nyanyi, ternyata sukkie juga berbakat jadi penulis skenario).

Jung In menjadi manager Mu Gyul, ia terlihat kelelahan. Di sampingnya Mu Gyul sedang sibuk membolak-balik skrip. Situasi damai tidak berlangsung lama, keduanya lalu meributkan van Mu Gyul. Mereka bertengkar sepanjang jalan.

Keduanya tiba di Ji Entertainment.
“Direktur, apa kau tidak tahu kalau aku sangat tidak suka kedinginan? Kenapa tidak menyiapkan pakaian tebal dan membuatku berlari-lari kecil seperti orang gila begini”, protes Mu Gyul pada Jung In yang sedang sibuk mengeluarkan barang Mu Gyul dari van. (Hahahahah, sepertinya tebakanku benar, Jung In jadi manager Mu Gyul). Jung In menyarankan agar mereka berjalan lebih cepat, Mu Gyul sepakat. Masuk ke JI Entertainment, Mu Gyul langsung diserbu dengan histeris oleh para fansnya, Jung In dengan sigap memberikan perlindungan pada Mu Gyul (Ckckkckck, selain jadi manager, Jung In ternyata rangkap pekerjaan sebagai bodyguard^^). Beberapa fans yang fanatik ribut dan memarahi Jung In. (Wakaakkakakkk. ) Jung In berusaha mengeluarkan Mu Gyul dari situasi itu dengan segera.
Hari kembali malam, Jung In kembali menyetir van Mu Gyul. Ia melonggarkan dasinya, sepertinya ia melalui hari yang berat. Di sampingnya, Mu Gyul tertidur kelelahan, tanpa sadar kepalanya jatuh di bahu Direktur.

Jung In tersenyum kecil, tiba-tiba Mu Gyul terbangun, sadar kepalanya berada di tempat yang tidak seharusnya, cepat-cepat ia mengambil posisi aman. Keduanya tiba di tempat Mu Gyul, ternyata Mae Ri disana, menunggu untuk makan malam. Mae Ri melihat Jung In, keduanya terlihat canggung.
“Direktur…”, ujar Mae Ri, terkejut melihat Jung In di sana bersama Mu Gyul.
“Wi Mae Ri-Ssi..”, balas Jung In.
“Aku turut prihatin atas kondisi perusahaan yang kurang baik”, lanjut Mae Ri.
“Tidak apa-apa, kami akan tetap bertahan”, ujar Jung In, kali ini dengan senyuman kecil. Mae Ri mengangguk ringan.
“Kau terlihat baik”, lanjut Jung In lagi. Mu Gyul melihat ke arah direktur dan mulai memasang wajah masam.
“Direktur juga”, sahut Mae Ri. Kali ini Mu Gyul memandang Mae Ri dengan wajah yang lebih masam. Mu Gyul tidak mau percakapan itu membuatnya tidak nyaman, ia mengalihkan situasi dengan berkomentar kalau masakan Mae Ri terlihat lezat, ia tidak sabar untuk makan. Ketiganya akhirnya makan bersama. Wajah Mu Gyul terlihat paling masam diantara semuanya.
Seo Jun dan Jung In sedang bercakap-cakap di ruang Jung In. Keduanya membahas tentang Lee Anh.
“Aku sudah mewanti-wanti Lee Ahn agar tidak menerima tawaran produksi drama lainnya. Walaupun memberikan toleransi tetapi tetap harus menyelesaikan kontak hingga akhir”, ujar Seo Jun. Jung In senang mendengarnya dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Seo Jun.
“Tidak apa-apa, teman”, ujar Seo Jun sambil terseyum simpul. (Wow, cocoklah orang dua nih).

“Ngomong-ngomong, engkau benar-benar mengembalikan Mae Ri ke sisi Mu Gyul. Sepertinya ada alasan tersendiri dibalik pengorbanan itu”, ujar Seo Jun. Ia berhenti sejenak memandang Jung In.
“Jika benar-benar mencintai Mae Ri, tentu tidak akan membiarkan itu terjadi”, tebak Seo Jun. Ia menebak Jung In melakukan itu karena lebih memilih sukses dalam karirnya dibanding cinta. Jung In tersenyum kecil. Jika mengingat apa yang telah terjadi ia pasti merasa sedih. Seo Jun tersenyum, ucapannya menunjukkan dengan jelas kalau tebakannya salah, Jung In mencintai Mae Ri.

“Aku hanya ingin bebas dari campur tangan ayah, melakukannya sendiri, entah itu tentang perusahaan ataupun perihal cinta”, ujar Jung In kemudian dengan mantap. Seo Jun mengangguk-angguk.
Mae Ri melihat video klip “Hello Hello” Mu Gyul di TV, ia merasa Mu Gyul terlihat kurus.
Sepertinya ia harus memasak sup ayam ginseng untuknya, makanan seperti itu bisa menambah asupan gizi untuk orang sibuk seperti Mu Gyul. Mae Ri bergegas.

Di tempat Mu Gyul, Mae Ri meletakkan nampan berisi tiga mangkuk sup ayam gingseng buatannya. Ia menurunkan mangkuk satu persatu. Untuk Jung In, Mu Gyul dan dirinya. Mu Gyul begitu bersemangat, ia memuji masakan Mae Ri benar-benar lezat. Jung In setuju, ketiganya makan dengan lahap.
“Ambil ini, paha ayam punya gizi yang yang sangat baik”, ujar Mae Ri sembari memindahkan paha ayam dari mangkuknya ke mangkuk Mu Gyul. Mu Gyul menerimanya dengan senang hati. Jung In melihatnya dan merasa iri, ia juga ingin perhatian seperti yang diberikan Mae Ri. Mu Gyul memandangnya dan menawarkan ginseng dari mangkuknya, berdalih itu baik untuk kesehatan.
“Kau suka ginseng?”, tanya Mu Gyul, Jung In memandanginya, tidak bereaksi.

“Ah, makanlah, itu baik untuk tubuh”, lanjut Mu Gyul sembari meletakkan sepotong ginseng di mangkuk Jung In. Yang dihadiahi sepotong ginseng diam sejenak dan akhirnya mengucapkan terima kasih.
“Oh, kimchi ini terlihat lezat”, kata Jung In akhirnya, sambil memindahkan khimci ke mangkuk Mu Gyul. Mu GYul yang tidak suka khimci dengan segera mengamankan mangkuknya. Mae Ri memandangi kelakuan keduanya dengan wajah “apa yang sedang kalian lakukan??”.

“Oh, jangan lupa menambahkan garam ke dalam sup”, Jung In makin usil, ia mengangkat mangkuk kecil berisi garam dan bermaksud menuangkannya di mangkuk Mu Gyul. Kali ini Mu Gyul tidak sempat mengelak dan semua garam itu tertuang dengan sempurna di mangkuknya (Hahahhaha), ia mendesis kesal.

Selesai makan, ketiganya sibuk dengan diri masing-masing. Mae Ri duduk di ayunan sembari membaca buku, tak jauh darinya Mu Gyul berdiri sembari memainkan dartboard, di sofa, Jung In sibuk sendiri dengan ipad-nya. Ia sedang mengecek berita tentang drama produksinya ketika ia mendapatkan panggilan masuk.

Ternyata itu kabar gembira, seseorang di seberang telepon mengabarkan bahwa drama mereka Wonderfull day, sukses besar dan mendapat penghargaan.
“Mae Ri-Ssi…., sukses…”, ujarnya dengan nada datar pada Mae Ri. Mae Ri tidak mengerti dan menanyakan maksud Jung In. Mu Gyul tertarik, ingin tahu apa maksud perkataan Jung In, ia berhenti memainkan dart-nya.
“Wonderfull day berhasil mendapatkan sponsor”, (itu berarti proyek drama mereka akan dilanjutkan lagi) kali ini Direktur mengatakannya dengan mata berbinar. Mae Ri berdiri dari ayunan, Mu Gyul tersenyum dalam diam. Mae Ri senang bukan main, ia mengulang ucapan Jung In pada Mu Gyul. Mae Ri benar-benar senang, berkali-kali menyelamati Jung In. Jung In berhadapan dengan Mu Gyul, ia dengan tulus berterima kasih, ia mengangsurkan tangannya untuk berjabat tangan. Mu Gyul memandanginya, tersenyum dan menyambut tangan Jung In dengan mantap. Mae Ri tersenyum simpul melihat keduanya. Kebahagiaannya berlipat ganda sekarang.
Jung In dan Mae Ri baru keluar dari kantor pengacara ketika bus bergambar drama produksi mereka melintas. Keduanya tersenyum senang. Lama keduanya saling pandang. Akhirnya keduanya benar-benar bercerai. Mereka baru saja menyelesaikan segalanya dengan pengacara, Mae Ri janda sekarang (Hahahhaha. Padahal ia tidak pernah benar-benar menikah dengan Jung In, kalau bukan karena ayahnya memalsukan dokumen pernikahan dirinya dan Jung In ia pasti masih berstatus lajang sekarang. Hehehehe…).
Semua sedang sibuk menyiapkan perayaan perceraian Mae Ri dan Jung In di tempat Mu Gyul. So Ra, Ji Hye, dan teman-teman Mu Gyul terlihat sangat bersemangat. Mereka telah mendekor rumah Mu Gyul, menyiapkan kue, terompet dan semua-semuanya. Mereka tidak sabar menunggu kedatangan Mae Ri dan Direktur. Mu Gyul menyalakan lilin pada kue tar. Mereka serempak berdiri dengan panik ketika mendengar suara pintu ditarik, semua sudah siap pada posisi masing-masing. Ternyata yang datang bukan Mae Ri tapi Seo Jun. Mereka serempak mengeluh.
“Begini ekspresi penyambutan kalian padaku? Padahal aku datang dengan membawa minuman”, ia pura-pura merajuk tapi tersenyum kemudian. Dengan cepat ia bergabung setelah mendengar suara langkah kaki di depan pintu. Semua siap pada posisi masing-masing. Menahan nafas dan tattaaada… teroreeetttt…

Mereka menyanyi dengan gembira menyelamati Mae Ri dan Jung In yang sudah resmi bercerai. Wajah keduanya terlihat keheranan dengan kejutan yang disiapkan teman-temannya.

Tapi sejurus kemudian keduanya tersenyum. Perayaan dimulai, mereka bersenang-senang.

Setahun kemudian, Mae Ri sedang sibuk dengan profesi barunya, mencoba menjadi penulis. Ia sedang mengambil gambar dengan tema cinta dan pernikahan.

Ia mewawancarai pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Awalnya pengambilan gambar baik-baik saja tapi siapa sangka objeknya kali ini malah berkelahi di depan kameranya di tengah-tengan pengambilan gambar. Pasangan kekasih itu saling teriak dan mencela satu sama lain, semua terekam dengan sempurna di kamera Mae Ri. Merasa tidak nyaman, ia pelan-pelan kabur dari sana.
Mae Ri mendongak dan menemukan Jung In disana.
“Direktur…”, ujarnya dengan wajah sumringah, tidak menyangka akan bertemu direktur di tempat itu. Jung In menghampirinya.
“Sepertinya kau terlihat baik-baik saja”, sapa Jung In.

“Bekerja sebagai penulis adalah mimpiku sejak dulu. Sekarang aku kembali kuliah untuk mempersiapkan semuanya”, lapor Mae Ri. Ia merasa Jung In sudah seperti kakaknya sendiri. Jung In tersenyum mendengarnya.
“Hm, lalu ada urusan apa kau datang mencariku”, lanjut Mae Ri. Jung In mengatakan kalau ayahnya sudah kembali ke rumah dan secara khusus menitip salam hormatnya pada Mae Ri. Gadis itu tersenyum, tiba-tiba seorang pria dengan kupluk datang menghampirinya dengan sedikit tergesa.

“Kakak kelas…”, ucapnya, ternyata itu adik tingkat Mae Ri di kampus. Mae Ri tersenyum melihatnya dan menanyakan ada apa ia mencarinya. Tapi pria itu justru bertanya balik, siapa pria yang sedang bersama Mae Ri. Jung In tersenyum melihat Mae Ri, sepertinya ia tahu kalau pemuda itu sedang naksir pada Mae Ri.
“Hm….., dia mantan suamiku”, ucap Mae Ri dengan tersenyum.

“Hei, jangan berbohong untuk mengusirku”, lanjut pemuda itu lagi dengan wajah tidak percaya. Jung In ikut-ikutan dan membenarkan ucapan Mae Ri. Pemuda itu tidak menyerah.
“Kakak yang baik sudah menikah dengan seorang pria lalu bercerai. Ah, itu tidak menjadi soal. Aku sengaja membuat lagu khusus untuk kakak. Engkau harus mendengarkan dan melihatnya”, lanjutnya dengan mantap. Mae Ri tersenyum sumringah melihat tingkah pemuda itu.
“Aku punya banyak lagu seperti itu”, lanjut Mae Ri kemudian, Jung In tersenyum mendengarnya.

“Sepertinya banyak musisi yang menyukaimu, Mae Ri”, kata Jung In sambil tertawa kecil. Gadis itu menerawang sejenak, tersenyum dan mengangguk-angguk membenarkan.
Di taman, Mu Gyul duduk sambil bernyanyi seperti biasanya. Masih seperti biasanya juga, orang-orang begitu betah mendengarkan nyanyian dan petikan gitarnya.

Mae Ri berjalan perlahan ke arahnya. Tersenyum memandangi kekasihnya dari tempatnya berdiri. Ia dan Mu Gyul masih seperti dulu, dua belas kali putus dan sekarang adalah ketiga belas kalinya mereka bersama-sama lagi. Ah, ada yang berubah. Sekarang Mu Gyul lebih percaya diri.
Mu Gyul dan Mae Ri berada di tempat Mu Gyul. Mae Ri mengeluh kepanasan, ia merasa Mu Gyul memasang suhu pemanas terlalu berlebihan. Ia lebih suka tempat itu saat dingin, dengan begitu keduanya bisa saling menjaga agar tetap hangat. Mu Gyul memandang Mae Ri, meletakkan bacaannya dan menghampiri Mae Ri.
“Hei, Wi Mae Ri. Apa yang kau katakan? Meskipun begitu aku tetap bisa memanjakanmu”, goda Mu Gyul sembari merangkul gadis itu. Mae Ri tersenyum.

Sekarang Seo Jun sudah menjadi aktris terkenal, ia disibukkan dengan jadwal syuting yang begitu padat. Ia masih seperti biasa, tegas dan menginginkan pekerjaannya selesai dengan sempurna. Emosinya masih sama seperti dulu, meledak dengan mudah saat ia tidak setuju terhadap sesuatu. Satu hal yang membuatnya berada di posisinya sekarang adalah loyalitasnya yang begitu tinggi pada pekerjaan. Begitu menandatangi satu kontrak maka ia akan dengan sempurna bekerja keras mengusahakan yang terbaik hingga akhir.

Mu Gyul dan Mae Ri bergandengan tangan menyusuri jalanan Hongdae. Keduanya membelah keramaian dengan wajah bahagia, tertawa satu sama lain dan berbagi headset sambil mendengarkan lagu. Bahagia dalam cinta.

“Kami hanya orang muda berusia dua puluh tahunan yang berdiri di simpang jalan kehidupan…, yang memilih jalan kami sendiri…”, ujar Mae Ri (berupa narasi). Keduanya saling pandang, tersenyum sekali lagi, lalu Mu Gyul mengecup lembut pipi Mae Ri. Kali ini Mae Ri tersenyum penuh bahagia.

 

cre:asrianiamir17.multiply.com🙂

 

aq agak ga suka endingnya, maunya sihh mary sama jung in aja.. kekekeke.. ada yang setuju????

36 thoughts on “Sinopsis Mary Stayed Out All Night Episode 16

  1. HU’UH..
    AQ JG PNGEN MAE RI AKHIR X SAMA JUNG IN,
    CZ MRKA C0COK..
    JUNG IN C0OL ABIZ., D0’I PRIA PNUH KSIH SYANG MESKH AGK CUEK.
    TP AQ SUKA YG CUEK2 GT0😀

  2. iya, aq setuju banget kalau mary sama jung in. tapi dari beberapa drama korea yg aku tonton peran kim jae wook emang selalu jadi orang ketiga/cowo yg cintanya yg terbalas hehehe…

  3. aku suuukaaa bnget sma endingnya… Mu Gyul ganteng and Mary imut,,, untungnya endingnya Mary sma Mu Gyul,jadi lebih serasi and romantic dehh… ckckckckc

  4. lucu,pas Mu Gyul ngambek patah ati pas mary nikah . .
    Suka tiap x JGS maen, pa lg pas d do-re-mi,total bgt maen’y😀
    lagu2’y jg,kombinasi ma suaranya,jd enk d denger . . ^o^

  5. huhuhu… Aq sedih. Kasian jung in… Perasaanx sakit. Mncntai tp tdk bisa memiliki… Aq maux mery nikah ama jung in

  6. Mo gyul ama merry cocok banget kok. Mereka terlihat lucu dan serasi. Chemistry antara mereka berdua bgs. Ya.. walau kasian ma Jung in tp aq yakin nanti dy pst dapat gadis yg baik. hahahahahhaha….

  7. i luv it.. aq suka ne klo happy ending.. he3
    JGS emng ckep bgtz,,
    q hrap jung in mndpat cwe yg baek jg sm sprt merry, awalx q g suka am jung in gr2 g suka dia d drama bad boy.. tp dsni dia tmpak lbh baek.. he3

  8. Jang geun suk kereennn bangetzzzzz……..
    Endingx lumayan bagus,,bwt skenario dri seseorang aktor. Pokokx Mae Ri n Mu gyul cocok banget apalagi rambut mereka yg acak2an.

  9. aku audah tau pasti akhirnya Mary sama Moo Gyul. tap sampai sekarang aku tetap berharap dan lebih suka kalo Mary sama Jung In. LOVE JUNG IN

  10. emmmm ,,,,,,, akhirnya sama moo gyul,…. tapi emang lebih baik sama orang yang kita cintai ,,,, tapi jung in juga mencincai merii prefek lagii ,,, tapi nama nya juga skenario film heee andai jung in dengan q ,,, hohohoho…

  11. semoga Jung In baik baik saja (khawatir :D) setujunya sih sama Jung In, tapi endingnya tetep keren. setelah nangis diawal, senyum diakhir cerita. direktur yang sabarrr yaa….

  12. aku setujunya mary sama jung in…hehehe,,,mereka cocok banget…kasihan jung in udah terlanjur cinta sama mary. andai drama ini ada part 2 nya yang endingnya mary sama jung in. hehehe…^^

  13. Iya nih, maeri tuh cocok sm jung in!
    Mu gyul biar sm seo jun!

    Knapa ya, kbanyakn drama gak pas gitu endingnya, kayak Dream High, Hye Mi lebih cocok sm Jin Guk pdhl😦

    Tp gpp deh, yg penting maeri msh sahabatan sm jung in ^^
    Biar maeri sm jung in dlm khayaln ku aja hahaha

  14. Ih kok rasanya kaya’ karma gitu ya. Ayahnya Jung In ngga bersama orang yg dicintainya yaitu ibunya Mae Ri. Nah, selanjutnya jg si Jung In ngga jadi hidup bahagia bersama Mae Ri. Kaya’nya ayah-anak ini ngga nasib ya huhuhu sediiiih T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s