Sinopsis Mary Stayed Out All Night Episode 15

maaf  ya, ep. 15 ini aq cuma posting sinopsisnya, ga pake piku2 nya.. mianhe🙂

Jung In membuka kotak kecil pemberian Mu gyul. Yapz, itu cincin tunangannya dengan Mae Ri. Itu berarti tidak ada lagi alasan ia bisa menahan Mae Ri bersamanya. Ia sedih.
Sementara itu, Mae Ri terus mengejar Mu Gyul, berusaha menghentikannya dan meluruskan kesalahpahamannya, menjelaskan kalau dirinya telah menunggu Mu Gyul sepanjang hari dan mendatangi direktur hanya untuk membereskan sesuatu.


Mu Gyul masih tidak terima, urusan apa yang harus dibereskan dengan membiarkan dirinya dipeluk seperti tadi? Mu Gyul tidak habis pikir kenapa itu bisa terjadi. Akal sehatnya tidak bisa menerima perbuatan Mae Ri. Mu Gyul berlalu, meninggalkan Mae Ri begitu saja. Mae Ri memanggil namanya lagi, mencoba menghentikan Mu Gyul tapi percuma, sedih dan terluka telah menguasai Mu Gyul. Ia sungguh sulit melupakan apa yang baru saja dilihat dengan mata kepalanya sendiri, Mu Gyul mencoba menahan air matanya.

Mae Ri terus berusaha menemukan Mu Gyul dan menjelaskan kesalahpahaman dengan kekasihnya itu. Ia bergegas ke tempat Mu Gyul tapi kosong, pria itu tidak disana. Duduk dengan lesu di sofa dan memandangi semua kue dan jerih payahnya mempersiapkan perayaan dengan Mu Gyul malam itu. Sayang harapannya melewati malam itu dengan bersenang-senang dengan Mu Gyul harus rusak karena kesalahpahaman di rumah Direktur. Ia menghela nafas panjang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Mae Ri menyangka itu Mu Gyul, ternyata bukan. Itu So Ra dan Ji Hye, mereka sedang merayakan natal bersama teman-teman Mu Gyul. Mereka tidak tahu kalau sahabatnya itu sedang bersedih, dengan penuh semangat mereka mengucapkan selamat natal dan tahun baru pada Mae Ri.

So Ra mengajak Mae Ri bergabung dengan mereka, Mae Ri menolak, ia sedang menunggu Kang Mu Gyul. So Ra memberitahu teman-temannya kalau Mae Ri sedang menunggu Mu Gyul. Dengan sigap Re Oh (teman Mu Gyul) mengambil ponsel So Ra dan mengatakan agar kakak iparnya tidak menunggu sendirian di hari seharusnya semua orang berbahagia. Ia mengajak Mae Ri bergabung dengan mereka dan berjanji akan menghubungi Mu Gyul untuknya. Mae Ri semakin sedih, sekali lagi menolak ajakan teman-temannya mengatakan kalau ia tidak perlu melakukan itu karena Mu Gyul sedang sibuk. Matanya mulai berkaca-kaca, nada suaranya juga mulai berubah. Re Oh mendengarnya agak aneh. Ji Hye mencoba membujuk Mae Ri, ia mengambil ponsel So Ra dari tangan Re Oh. Sekali lagi dengan tegas ia meminta sahabatnya bergabung dengan mereka sekarang juga, bukan menunggu sendirian seperti itu. Mae Ri mulai menangis tapi tetap berusaha membuat teman-temannya tidak khawatir dan mengatakan bahwa dirinya akan menunggu Mu Gyul sebentar lagi dan bergabung kemudian. Ia menutup telpon setelah sebelumnya meminta maaf pada Ji Hye.

Di seberang, Ji Hye merasa aneh dengan nada suara Mae Ri, tidak biasanya gadis riang itu bertingkah aneh seperti kali ini. So Ra dan teman-teman Mu Gyul membenarkan, suara Mae Ri terdengar aneh, seperti ia sedang menangis. Mereka menebak-nebak telah terjadi sesuatu antara Mu Gyul dan dia. Sementara itu, Mu Gyul sedang berada di bus, menyandarkan kepalanya dengan lesu.

Tidak peduli pada orang-orang sekitar yang mulai menyadari keberadaannya sebagai bintang baru. Beberapa di antaranya secara sembunyi-sembunyi mengambil foto Mu Gyul.

Di tempat Mu Gyul, Mae Ri mondar-mandir menunggunya pulang. Ia tidak tenang sebelum kesalahpahaman itu diluruskan. sekali lagi ia memandangi semua dekorasi yang dipasangnya untuk perayaan natal dan ulang tahun Mu Gyul. Itu membuatnya semakin sedih, terlebih ketika melihat pengikat tirai yang dibuat khusus untuk mengabulkan permintaan Mu Gyul tempo hari agar menurunkan tirai pembatas di tempat tidur mereka. Semakin sedih membuatnya menyerah dan beringsut dari sana, tepat ketika Mu Gyul tiba. Keduanya berpapasan tapi Mu Gyul melewatinya begitu saja.

Mae Ri sangat sedih tapi bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Mae Ri mendapati Mu Gyul dan memberikan perhatian kepadanya seperti biasa. Ia mengkhawatirkan kemana Mu Gyul pergi di udara yang sangat dingin seperti itu, ia menggosok punggung Mu Gyul. Dengan suara pelan ia mulai meluruskan kesalahpahaman Mu Gyul lagi, menjelaskan kepergiannya ke tempat Jung In sejatinya untuk meminta dengan tegas agar Jung In menceraikannya dan membiarkan mereka berdua.

Mu Gyul masih kesal, ia tidak peduli apapun penjelasan Mae Ri. Gadis itu menunduk sedih, berusaha membujuk Mu Gyul sekali lagi. Itu ulang tahun Mu Gyul, ia tidak boleh seperti itu. Dan lagi, sedari pagi ia sudah mempersiapkan segalanya untuk perayaan mereka. Ia mengajak Mu Gyul mendatangi meja perayaan secepatnya. Mu Gyul tidak tahan lagi, setengah berteriak ia melepaskan tangan Mae Ri. Menyinggung hal yang seharusnya tidak disinggung, mengatakan kalau sejak bertemu Mae Ri, hidupnya menjadi sulit. Ia datang dan mengubah aliran musiknya, lalu membuatnya berdiri di depan panggung dan membuatnya tampak lucu.(Ow, no. Mu Gyul benar-benar lepas kendali). Mu Gyul melanjutkna ucapannya, mengatakan ia bisa melalui dan bertahan dengan semua itu demi Mae Ri tapi apa yang kemudian gadis itu lakukan. Ia menginginkan jawaban jujur dari gadis itu, apakah benar Jung In sangat berarti baginya. Dengan mata yang berkaca-kaca Mae Ri menggeleng. Mu Gyul sudah tahu dengan jelas jawabannya, kenapa ia bertanya lagi.

“Aku tidak tahu dengan jelas. Hari ini aku melihatmu seperti orang lain. Pergilah..!”, ujar Mu Gyul lalu memunggungi Mae Ri. Gadis itu semakin sedih dan memastikan pendengarannya, benarkah ia memintanya pergi. Mu Gyul mengiyakan, ia butuh waktu untuk sendiri.

Dengan berat hati, Mae Ri berlalu dan pergi bersama semua kesedihannya. Di dalam rumah, Mu Gyul tidak kalah frustasinya. Ia duduk di sofa memandangi semua persiapan perayaan yang telah disediakan Mae Ri. Antara sedih dan kesal ia berdiri dan melepas dengan paksa dekorasi natal buatan Mae Ri. (Ckckckk…).

Di apartemen Wi Dae Han, Kang So Young yang sedang mengepel (sebenarnya mengepel alakadarnya) terkejut ketika mengetahui Wi Dae Han sibuk dengan setumpuk undangan pernikahan Mae Ri. Sebagai ibu Mu Gyul, ia protes. Dengan sigap ia mengambil selembar undangan dan menyambar jaketnya. Yapz, ia bergegas menemui Mu Gyul, melaporkan hal itu pada putranya. Mu Gyul yang sedang melamun terganggu dengan suara ribut di pintu rumahnya. So Young memanggilnya, Mu Gyul sadar itu ibunya, ia kembali tertunduk lesu. Tanpa basa-basi, So Young menyatakan semua kekecewaannya tentang Mae Ri, bahwa ia bukan gadis baik-baik karena berhubungan dengan dua pria pada saat yang bersamaan.

Ia terus menjelek-jelekkan Mae Ri, Mu Gyul yang mendengarnya mencoba meluruskan ibunya, Mae Ri bukan gadis seperti itu. (Nah lo, terlihat jelas sebenarnya Mu Gyul tahu jelas tentang Mae Ri, hanya saja emosi membuatnya lepas kendali. Hm, tapi mulai menemukan hatinya kembali^^). So Young mencela ucapan Mu Gyul, bagaimana mungkin ia beranggapan Mae Ri gadis baik-baik, sedang dia punya bukti kuat kalau itu sama sekali tidak benar. So Young mengeluarkan undangan pernikahan dari tasnya.

Mu Gyul terkejut melihatnya, tidak menyangka itu undangan pernikahan Jung In dan Mae Ri. Ia berdiri dengan marah, melempar undangan dengan kasar, bagaimana mungkin sebuah pernikahan bisa terjadi tanpa persetujuan dari mempelai wanita?!!!

Mu Gyul menyuruh ibunya untuk keluar dari tempat Wi Dae Han, ia sudah menebus cincin itu jadi So Young tidak punya beban apa-apa lagi untuk diselesaikan. Mendengar perkataan putranya membuat So Young begitu bahagia, ia memeluk dan memuji Mu Gyul. So Young menghubungi Wi Dae Han, melaporkan kebebasannya dan melepas semua kekesalannya selama ini. Tidak lupa menyebut Wi Dae Han sebagai ayah yang tega menjual putrinya sendiri pada keluarga kaya. Wi Dae Han membalas ucapannya dengan emosi, tentu saja membela dirinya. Tapi So Young tidak bisa dihentikan, memaksa Mae Ri menikah dengan pria yang tidak dicintainya, bagi So Yung sama saja berarti menjual putrinya sendiri. Wi Dae Han uring-uringan, So Young merdeka.^^

Mae Ri tiba di rumah, membuat ayahnya heran, sudah selarut itu dan Mae Ri kembali ke rumah? Apa ia tidak merayakan Natal dengan Jung in? Apa ia ada masalah dengan putra Tuan Jung itu? Ah, Wi Dae Han begitu banyak pertanyaan, melebihi gaya pihak berwajib saat mengintrogasi tersangka (kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya In Bok di Baker King Kim Tak Gu pindah ke MSOAN^^). Mae Ri dengan jujur mengatakan kalau ia sudah meninggalkan Jung In, ia menceraikannya. Wi Dae Han terkejut dan marah mendengarnya, ia mulai mengatur-atur Mae Ri lagi, setengah berteriak gadis itu menghentikan ayahnya. Memintanya tidak membahas apapun saat ini, ia terlalu lelah dan ingin beristirahat.

Mae Ri menangis sedih di kamarnya, meninggalkan Wi Dae Han dengan pikirannya sendiri.

Di tempat lain, Jung In juga sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, melamun dalam gelap, membiarkan kamarnya tanpa cahaya lampu.

Keesokan harinya. Jung In sedang berbicara dengan salah satu karyawan JI Entertainment, ia merencanakan sebuah perjalanan bersama, semacam piknik kolektif, sekedar refresing setelah melewati hari-hari yang penuh kesibukan demi produksi drama mereka. Jung In benar-benar atasan yang pengertian, ia juga mengingatkan stafnya untuk memberitahukan hal itu pada Mae Ri. Stafnya mengiyakan dan bergegas meninggalkan ruangan direktur, berencana mengabarkan hal baik itu pada semua. Ia berpapasan dengan Mu Gyul di pintu, ia ingin membagi kabar itu padanya tapi Mu Gyul melewatinya begitu saja, sama sekali tidak peduli dan langsung bergerak ke sisi Jung In.

Ia menuduh Jung In telah merencanakan semua permainan itu dari awal, menyuruh Mae Ri mencoba baju pengantin, lalu menyebar undangan pernikahan. Sangat jelas ia ingin menikahi Mae Ri dengan paksa. Jung In dengan gayanya seperti biasa menjelaskan kalau semua persiapan pernikahan adalah pekerjaan ayahnya. Mu Gyul mencemooh, “Pengecut…!”. Lalu melanjutkan ucapannya, “Wi Mae Ri.., apakah kau mencintainya?”. Jung In ragu-ragu sejenak lalu menjawab kalau ia tidak bisa menyangkal hal itu. J

ung In mengangkat wajahnya, pandangan keduanya bertemu, Mu Gyul membeku. “Jangan salah paham pada Mae Ri, kemarin ia datang karena permintaanku”, lanjutnya. Ia lalu menyerahkan jadwal broadcast Mu Gyul selama seminggu, Mu Gyul tidak peduli dan meninggalkannya. Jung In menghela nafas panjang.

Wi Dae Han sedang membaca Koran ketika Mae Ri keluar dari kamarnya, bersiap untuk pergi. Wi Dae Han mendatanginya, menanyakan apakan putrinya itu tetap akan mendatangi Jung In meski cuaca sangat dingin seperti itu. Mae Ri menghela nafas, “Ayah, apakah kau benar-benar berharap aku menikahi Jung In?”.

Nada suara Wi Dae Han mulai naik, “Apa kau terbangun dengan baik? Putriku harus menikahi pria kaya itu. Kalau kau menikahi pria pilihanmu, sama saja membuatku gila. Itu sama sekali bukan hal yang kuinginkan. Mae Ri…, ayahmu berharap, engkau bahagia”.

Mae Ri menunduk, Wi Dae Han mengambil tangan Mae Ri dan menggenggamnya, mencoba membujuk putrinya sekali lagi, “Mae Ri, pikirkanlah baik-baik…, cinta dan perkawinan pada kenyataannya adalah hal yang berbeda..”.

“Aku pergi dulu”, ia melepaskan genggaman ayahnya dan berlalu.

“Mae Ri, kau akan bisa melewati masa lalu yang menyakitkan dengan cepat..”, lanjut Wi Dae Han tapi Mae Ri tidak menghiraukannya dan tetap berlalu meninggalkannya.

Mae Ri pergi ke toko buku, mencoba menenangkan diri dari semua kekacauan yang terjadi.

Jung In bergabung tanpa memberitahukan kehadirannya.

Ia duduk agak jauh dari Mae Ri. Gadis itu menoleh dan melihatnya, ia tidak mengucapkan apa-apa.

Ponsel Jung In berdering, dari kantor. Karyawannya panik dan mengabarkan kalau mereka tidak mampu menemukan Mu Gyul, sedangkan jadwal broadcast sebentar lagi dimulai. Mereka telah menghubungi ponselnya tapi tidak mendapatkan kabar apapun. Mae Ri mendengarnya tapi tidak berucap apapun. Jung In menutup telepon, ia menundukkan kepala pada Mae Ri, minta permisi dan berlalu. Gadis itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi Jung In pergi dengan bergegas, Mae Ri urung.

Mu Gyul sedang memainkan gitar listriknya segila-gilanya, teman-temannya mencoba mengingatkannya untuk menjawab panggilan di ponselnya, itu berhubungan dengan proyek mereka. Mu Gyul tetap tidak peduli, malah makin kencang memainkan gitarnya. Teman-temannya mulai memarahinya, “Ah, kau benar-benar keterlaluan! Sangat menakutkan!!”. Ketiga temannya yakin Mu Gyul dan Mae Ri bertengkar, hingga hyung mereka berbuat segila itu.

Tiba-tiba suara berisik itu berhenti, seseorang mencabut kabel gitar Mu Gyul. Yapz, itu Jung In, dadanya sampai naik turun menahan amarah. Mu Gyul memandanginya, pria itu berdiri, meletakkan gitar dan berencana berlalu dari sana. Sayangnya direktur tidak melepaskannya begitu saja.

“Kang Mu Gyul-shi.., aku tidak menyangka anda orang yang tidak bertanggung jawab!! Tidak mematuhi jadwal rekaman dan bertindak sesukanya! Orang seperti itu lebih baik menyerah saja sebagai penyanyi!!!”, ujar Jung In kesal.

Mu Gyul berbalik dan berkata, “Sejak awal aku sudah mengatakan, aku tidak ingin bekerja untuk anda. Apa anda benar-benar melupakan kesepakatan itu?”.

“Lalu, mengabaikan janji anda dan melakukan apapun yang diinginkan seorang rocker? Sangat lucu!! Jika orang yang menyukai Mae Ri hanya seperti ini, sepertinya aku punya sesuatu untuk memenangkannya!! Jangan sembarangan tentang itu”, Jung In tidak tinggal diam.

“Kau tidak tahu apa-apa. Berhasil bagi anda hanyalah sebuah gelar”.

“Kang Mu Gyul-shi, aku tidak akan membiarkan Mae Ri berada di sisi orang seperti anda!!”.

“Semua yang anda katakan merujuk pada Mae Ri..!”, Jung In mengangguk lemah dan melanjutkan ucapannya.

“Jika anda ingin aku berhenti mengejar Mae Ri, maka anda harus mulai berpikir dengan baik tentang tindakan anda selanjutnya. Aku akan menunggu untuk melihat dan menyaksikan apakah anda sudah pantas!!”, Jung In menyelesaikan ucapannya dan berlalu dari hadapan Mu Gyul.

So Ra, Ji Hye dan teman band Mu Gyul sedang berkumpul, mereka prihatin dengan hubungan Mu Gyul dan Mae Ri. Kelimanya memutar otak untuk mempertemukan keduanya dan menyelesaikan masalah mereka. Akhirnya salah satu dari mereka menemukan ide yang baik dan menghubungi keduanya.

Masing-masing berpura-pura sedang dalam kesulitan dan mengharuskan Mu Gyul dan Mae Ri datang, tentunya tanpa sepengetahuan keduanya. (hohoho.., kompaknya para sahabat ini^^).

Mu Gyul tiba pertama kali, merasa aneh dengan keadaan ruangan yang sepi. Lebih aneh lagi, meja dihiasi cahaya lilin yang sengaja dirangkai berbentuk lambang hati, plus sebuah buket bunga mawar merah yang diletakkan di tengah-tengahnya. Di tambah lagi dengan alunan musik lembut yang romantis, sempurna. Mu Gyul mulai menyadari maksud kawan-kawannya. Ia berbalik untuk pergi, tepat saat itu Mae Ri tiba di tempat yang ditunjukkan Ji Hye. Keduanya berpapasan di pintu depan. Gadis itu begitu senang bertemu Mu Gyul disana. Seharian ia mencari pria itu tapi tidak menemukannya. Berbeda dengan Mu Gyul, ia masih saja dingin pada Mae Ri.

Ide pertemuan itu tidak berhasil. Keduanya justru terlibat pertengkaran, makin parah. Mu Gyul pergi begitu saja.

So Ra, Ji Hye dan teman-teman Mu Gyul yang ternyata bersembunyi di dalam serempak berlari keluar. Mencoba menahan Mu Gyul lebih lama dan menjelaskan kesalahpahaman itu. Tapi percuma, Mu Gyul menghilang dengan cepat. Semua mengkhawatirkan Mae Ri tapi gadis itu berusaha membuat teman-temannya tidak mengkhawatirkan dirinya. So Ra, Ji Hye dan teman band Mu Gyul sungguh kecewa pada Mu Gyul, mereka kesal setengah mati, tapi juga tida bisa melakukan apapun. Mae Ri sekali lagi menenangkan teman-temannya, mengatakan kalau dirinya baik-baik saja dan akan pergi mendahului. Teman-temannya mencoba menahannya tapi Mae Ri bersikeras, ia berlalu dari sana.

Mu Gyul pulang ke rumah, sepi. Ia melampiaskan kekesalannya pada tong sampah tidak jauh darinya, membuat semua sampah berhamburan di ruang tamunya, termasuk kondisioner rambut yang dibeli Mae Ri sebagai hadiah untuknya. Mu Gyul semakin sesak, ia terlihat seperti akan mengambil barang itu tapi panggilan di ponselnya menghentikannya, dari Seo Jun.

Sementara itu, Wi Dae Han sedang sibuk sendiri memilah milih warna hanbok yang tepat untuk pernikahan putrinya. Mae Ri pulang. Tanpa rasa bersalah Wi Dae Han menunjukkan pada putrinya. Menurutnya, jaman dahulu, seorang pengantin harus memakai hanbok terbaik untuk berkunjung ke rumah suaminya dan memberikan salam penghormatan kepada semua anggota keluarga barunya. Mae Ri mulai kesal lagi, tidak seharusnya ayahnya menyia-nyiakan banyak uang untuk itu semua. Wi Dae Han membela diri, itu pemberian Tuan Jung. Ia balik memarahi Mae Ri yang tidak menghargai usaha yang telah dilakukan calon mertuanya itu. Mae Ri menyerah, sedang malas berdebat, ia memilih masuk ke kamarnya. Wi Dae Han menyadari, putrinya tidak bersemangat seperti biasanya. Sepertinya sesuatu telah terjadi tapi Wi Dae Han juga tidak berinisiatif mencari tahu.

Seo Jun dan Mu Gyul minum-minum bersama di sebuah kafe. Seo Jun menyinggung perihal absennya Mu Gyul pada rekaman hari itu. Mu Gyul acuh, Seo Jun curiga Mu Gyul dan Jung In terlibat pertengkaran lagi. Tidak seharusnya Mu Gyul bertindak seperti itu, terlebih Direktur memegang andil penuh dalam kesuksesan Mu Gyul seperti sekarang. Loyal pada pekerjaan adalah hal paten. Kesetiaan tetap kesetiaan. (Wow, aku bahkan terkejut dengan Seo Ju yang seperti itu. Ia terlihat dewasa, berbeda dengan karakternya yang biasa^^).

Seo Jun juga memberitahukan perihal workshop atas nama perusahaan yang akan dilakukan besok, ia mengajak Mu Gyul untuk datang bersamanya.

Pagi-pagi sekali Mae Ri telah siap. Ia mengecek bawaannya saat Wi Dae Han mendatanginya. Mae Ri mengatakan perihal workshop perusahaan yang akan dilaksanakan hari itu. Wi Dae han sangat senang, itu berarti putrinya akan punya waktu yang banyak dengan direktur. Mae Ri hanya diam saja mendengar celoteh ayahnya, toh, dirinya ikut sebagai konsekuensi dari pekerjaan. Wi Dae han semakin bersemangat, menyarankan pada Mae Ri agar menjadikan perjalanan mereka hari itu sebagai pelajaran, persiapan untuk bulan madu nantinya. Mae Ri diam saja dan memilih meninggalkan tempat itu secepatnya. Wi Dae Han mengiyakan, sembari mengingatkan putrinya agar bersiap untuk pernikahan sekembalinya nanti. Ckckckkck…

Sementara itu Tuan Jung sedang mencoba setelan jas yang akan dipakainya pada pernikahan Mae Ri dan putranya nanti. Ia terlihat sangat menikmatinya, Tuan Jung juga mewanti-wanti pengurus rumah agar mengatur pernikahan semewah mungkin, dirinya tidak ingin ada yang kurang satu pun dalam pernikahan itu. Pengurus rumah mengiyakan, ia juga melaporkan kalau hanbok mempelai wanita telah dikirim ke tempat Wi Dae Han kemarin. Tuan Jung puas, undangan juga sudah disebar. Sempurna, tidak ada lagi yang kurang. Tinggal menunggu hari H saja.

Mae Ri tiba di perusahaan saat semua bersiap naik bus. Dua orang karyawan yang sedang berbicara dengan Jung In mengucapkan selamat atas rencana pernikahan mereka. Mae Ri heran dan merasa aneh. Ternyata para karyawan telah menerima undangan pagi itu, sekarang semua tahu bahwa Mae Ri adalah tunangan direktur. Jung In merasa tidak enak, ia tahu ayahnya telah bertindak tanpa sepengetahuannya. Salah satu dari karyawan itu lalu mengabarkan bahwa dirinya sudah menghubungi Mu Gyul untuk perjalanan hari itu. Juga mengatakan kalau pada awalnya ia menyangka Mae Ri berhubungan dengan Kang Mu Gyul tapi setelah semua itu ia tahu tebakannya salah, Direktur dan Mae Ri benar-benar berhasil menutupinya dengan sempurna.

Mae Ri tidak nyaman mendengarnya, ia memutuskan tidak berangkat. Ia meminta maaf dan berniat pergi dari sana, tapi tepat saat itu So Ra dan Ji Hye tiba. Ternyata Jung In juga mengundang keduanya. Mae Ri tidak bisa berbuat apa-apa, ia terpaksa ikut, So Ra dan Ji Hye menyeretnya. Hufhttt.. Bus berangkat, Mae Ri duduk sendiri, So Ra dan Ji Hye di belakangnya. Jung In di kusi seberang So Ra dan Ji Hye.

Masalah mulai muncul, salah seorang karyawan menyarankan dua orang yang akan menikah itu untuk duduk bersama. Tidak seharusnya dua orang yang akan menikah duduk terpisah seperti itu. Mereka harus menghilangkan kecanggungan antara keduanya. Yang lain mendukung, So Ra dan Ji Hye juga, dengan semangat So Ra memindahkan tas Mae Ri untuk tempat Direktur. Jung In dan Mae Ri tidak ada pilihan. (Lah, semalam mereka dan teman-teman Mu Gyul mati-matian mempertemukan keduanya. Apa yang terjadi sekarang???).

Perjalanan yang panjang dan melelahkan membuat hampir semua penumpang terkantuk-kantuk. Tidak terkecuali Jung In, beberapa kali kepalanya jatuh di pundak Mae Ri, berkali-kali juga Mae Ri menggeser kepala Jung In ke arah yang lain tapi tetap saja kepala Direktur jatuh di pundaknya.

Mae Ri menyerah, ia akhirnya membiarkan Direktur tertidur di pundaknya. Mu Gyul duduk dengan malas di rumahnya, ia memutar tv dan memandangi video klip Hello Hello miliknya. Lagu tentang kisah cintanya dengan Mae Ri. Tiba-tiba ponselnya berdering. Seo Jun mengajaknya ikut workshop sekali lagi.

Gadis itu sudah di mobilnya bersama-sama dengan teman band Mu Gyul, bersiap untuk berangkat secepatnya begitu Mu Gyul bergabung dengan mereka.

Mu Gyul bertanya apakah Mae Ri juga ikut, Seo Jun mengiyakan. Mu Gyul memutuskan tidak ikut, ia menutup teleponnya. Seo Jun merasa aneh, apa yang terjadi sebenarnya. Teman band Mu Gyul sama bingungnya, kenapa tiba-tiba Mu Gyul berprilaku seperti itu. Mereka menyangka keduanya hanya bertengkar kecil dan tidak sedang berniat mengakhiri segalanya. Tapi sepertinya tebakan mereka salah. Masalah keduanya sepertinya benar-benar pelik, mereka berharap keduanya berdamai secepatnya. Keempatnya berangkat.

Semua berkumpul di tempat workshop, mereka merayakan kerja keras mereka demi produksi drama perusahaan. Direktur mengucapkan terima kasih secara pribadi. Mereka bersulang, semua nampak bahagia. Kecuali Mae Ri, ia ingin sendiri. Pelan-pelan ia menjauh dari keramaian itu, Seo Jun melihatnya. Ia menyusul Mae Ri.

“Wi Mae Ri- Ssi, aku mendengar rencana pernikahanmu dengan Direktur”, Seo Jun memulai pembicaraan, tanpa basa-basi. Ia menuduh Mae Ri telah menyakiti Mu Gyul dan membuat hidupnya sulit. Seo Jun kesal dengan hubungan ketiganya yang sangat rumit. Ia bingung, siapa sebenarnya cinta sejati Mae Ri. Yang ia lihat selama ini, begitu samar. Tidak ada ketegasan hubungan antara dia dengan Mu Gyul pun dengan Jung In. Kesal dan marah ia meminta Mae Ri meninggalkan Mu Gyul (Nah loh?!!). Ia sama sekali tidak peduli penjelasan Mae Ri kalau berita pernikahan itu tidak benar. (Sungguh kasihan bagi Mae Ri. Terlalu banyak pengaturan atas dirinya yang terjadi tanpa sepengetahuannya. Wi Dae Han dan Tuan Jung bertanggung jawab atas semua itu!!).

Seo Jun berlalu, meninggalkan Mae Ri dengan semua tuduhannya. Gadis itu sesak, matanya berat dengan air mata. Ia beringsut dari sana. Jung In melihatnya. Ia tahu sesuatu telah terjadi. Mae Ri berjalan sendiri, menyusuri setapak pegunungan. Ia butuh udara segar untuk menghapus semua bebannya, kesalahpahaman, tuduhan dan rencana pernikahan sangat mengganggunya.

Mae Ri menghentikan langkahnya, tiba-tiba teringat saat Mu Gyul memberikan tanaman sejenis seledri untuk menghiburnya, saat ia meminta Mu Gyul membantunya untuk berpura-pura sebagai palsunya, lalu foto pernikahan palsu mereka.

Saat ia dan Mu Gyul menyusuri sepanjang Hongdae untuk mencari barang bekas demi mengisi rumah baru Mu Gyul, saat Mu Gyul membuka rambut palsunya, berbohong pada Wi Dae Han demi menyenangkan dan menghindarinya dari masalah, saat keduanya di borgol teman-teman Mu Gyul dan terpaksa berpura-pura sebagai penari latar saat audisi band Mu Gyul, saat keduanya dikejar-kejar murid sekaligus penggemar fanatik Mu Gyul lalu ciuman tanda jadian mereka, juga pernyataan cinta Mu Gyul sesaat sebelum memulai konser pertamanya setelah resmi menjadi bintang baru. Ia ingat semuanya. Rasa-rasanya semua baru kemarin, ia tidak ingin menghentikan itu semua, ia mulai menangis.

Mae Ri menghapus airmatanya dan melanjutkan perjalanannya, Jung In masih mengikutinya. Sengaja menjaga jarak, tidak ingin gadis itu tahu keberadaannya.

Sementara itu Mu Gyul sedang memandangi sepasang kalung berleontin kucing. Seharusnya kalung itu sudah menggantung di leher Mae Ri sejak ulang tahunnya, Christmas eve beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, ia tidak menyangka, di hari seharusnya keduanya merayakan natal dengan bahagia harus berubah jadi mimpi buruknya setelah melihat gadisnya bersama Jung In. Mu Gyul larut dalam pikirannya sendiri.

Mae Ri terus berjalan, ia sampai di daerah dengan ilalang dan semak di sekitarnya yang mulai rimbun.

Ia tidak peduli dan terus berjalan mendaki. Ketika tiba di puncak gunung, ia mengambil nafas dalam-dalam dan berteriak memanggil nama Kang Mu Gyul. Ia mengeluarkan semua ucapan yang seharusnya didengar oleh Mu Gyul.

“Kang Mu Gyul….., maaf… aku telah membuat hidupmu sedemikian sulit. Pernikahan palsu, hidup bersama, semua karena aku”, Mae Ri mulai menangis.

“Sungguh…, aku hanya ingin hidup bahagia dengan orang yang kucintai. Hanya ingin satu orang di dunia ini, denganmu… Tapi mungkin permintaanku terlalu banyak..”

“Aku mengatakan menginginkan orang baik di dunia ini untukku. Seolah-olah aku adalah orang yang baik… padahal aku juga orang brengsek.. Sangat tidak adil.. maaf… maaf… aku sungguh minta maaf…”, Mae Ri terus minta maaf, matanya telah banjir air mata. Ia membungkuk, menangis sejadi-jadinya. Berharap semua beban itu bisa lepas darinya.

Jung In yang mengikutinya sedari tadi, mendengar semuanya. Ia tersenyum di antara kesedihannya, ia tahu dengan jelas, di hati Mae Ri, meski secuil, tidak ada tempat untuknya, semua hanya untuk Mu Gyul. Jung In menghela nafas panjang, ia mengerti perasaan Mae Ri. Ia tidak tinggal diam lagi. Jung In mendatangi Mae Ri dan membantunya berdiri. Mae Ri sedikit terkejut, mendapati dirinya tidak sendiri, Direktur ada di sana. Mae Ri menghapus air matanya, tidak ingin orang lain melihatnya penuh air mata. Jung In mengajaknya turun, Mae Ri menurut.

Mu Gyul yang masih merajuk tertidur di rumahnya. Dering ponsel membangunkannya. Seo Jun lagi. Ia menjawabnya dengan malas. Seo Jun memanggil Mu Gyul dengan suara keras, panik karena Mae Ri dan Jung In sudah menghilang selama beberapa jam, besar kemungkinan keduanya hilang di pegunungan. Mu Gyul terbangun dengan cepat, memastikan pendengarannya. Seo Jun mengatakan ia sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa, sepertinya jaringan terhalang signal yang buruk.

Seo Jun sangat khawatir, terlebih ia mengatakan sesuatu pada Mae Ri sebelum gadis itu menghilang. Bisa jadi itu, gadis itu menghilang karena kesalahannya. Ia merasa bersalah atas kata-kata kasarnya pada Mae Ri. Mu Gyul panik, tanpa pikir panjang ia menyambar jaketnya dan bergegas menyusul ke tempat workshop. Mu Gyul sungguh tidak tenang, kekhawatirannya terlihat jelas. Ia meminta sopir taksi untuk mengemudi lebih cepat.

Sementara itu, Seo Jun, teman Mu Gyul, So Ra dan Ji Hye dan para karyawan membentuk tim pencari. Mereka menjelajahi hutan mencari keduanya. Hari sudah malam dan semua tampak lelah. Akhirnya mereka memutuskan menyerahkan pencarian pada polisi dan kembali untuk menunggu kabar di tempat semula. Seo Jun terus merasa panik, So Ra sampai menangis memanggil-manggil Mae Ri.

Mae Ri dan Jung In terus berjalan. Tapi hari sudah gelap, hutan yang terlalu rimbun dan tanpa alat penerang apapun membuat mereka berputar-putar di tempat itu-itu juga. Yapz, keduanya mulai tersesat. Mae Ri minta maaf, semua itu terjadi karena kesalahannya. Jung In tersenyum mendengar gadis itu minta maaf, mungkin itu akan menjadi kali terakhir ia mendengar gadis itu minta maaf. Ia mengajak Mae Ri berjalan lebih cepat. Mae Ri sepakat, tapi gelap membuatnya tidak melihat batang pohon yang melintang di depannya. Ia tersandung dan hampir terjatuh, seperti biasa Jung In dengan sigap menangkap tubuh Mae Ri. Tapi kali ini malang bagi keduanya, kondisi jalan yang miring membuat keduanya jatuh terguling-guling. Mae Ri berteriak kesakitan, mungkin juga ketakutan. Jung In tetap menahan tubuh gadis itu, malang baginya, kepalanya membentur batu besar.

Mae Ri mengangkat tubuhnya, ia tidak apa-apa. Tidak dengan Jung In, wajahnya penuh luka. Benturan pada batu menyisakan luka cukup besar di dahinya. Mae Ri panik dan mencoba membangunkan Direktur. Jung In tidak bergeming sedikit pun, Mae Ri berteriak mencoba meminta bantuan, berharap seseorang datang dan menolong mereka.

Di bawah, semua masih sibuk menghubungi polisi. Seo Jun mondar-mandir tidak tenang. Taksi yang ditumpangi Mu Gyul tiba. Seo Jun dan teman bandnya mendatangi Mu Gyul.

“Mae Ri…??”, tanya Mu Gyul. Seo Jun menggeleng. Mu Gyul ikut merasa bersalah. Ia melihat senter di tangan Seo Jun dan merebutnya.

“Apa yang ingin kau lakukan??”, Seo Jun mencoba menghentikannya.

“Jangan halangi aku, sebelum aku menyesal seumur hidup!!”, Mu Gyul bergegas pergi. Teman-teman bandnya mencoba menghentikannya tapi tidak berhasil. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Mu Gyul berjalan seorang diri di tengah hutan mencari Mae Ri. Tidak peduli udara dingin yang begitu dibencinya, demi seorang Mae Ri. Sedikit tertatih mendaki gunung di malam yang gelap. Ia terus berteriak memanggil Mae Ri. Sesekali meringis menahan dingin.

Sementara itu, Mae Ri sedang berusaha membuat Direktur tetap hangat. Ia meringkuk menutupi tubuh Jung In dan terus menggosok punggung pria itu. Mae Ri menarik penutup kepala Jung In, memastikan pria itu tetap hangat. Ia mulai menangis, khawatir. Tepat saat itu Mu Gyul tiba dan menemukannya.

Ia menyaksikan semua itu, melihat dengan mata kepalanya sendiri, Mae Ri meringkuk menutupi tubuh Jung In, menangis karena khawatir. (Godness.., salah paham untuk kesekian kalinya. Kenapa Mu Gyul selalu tiba di tempat dan waktu yang salah??). Mu Gyul menyorotkan senternya, Mae Ri memandang sumber cahaya itu. Yapz, ia adalah Mu Gyul.

Adegan dipotong di Rumah Sakit. Mae Ri mengawasi Direktur dengan setia. Merasa bersalah, Direktur cidera karena dirinya.

Wi Dae Han menghubunginya di telepon menanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. Mae Ri mencoba menjelaskan tapi bicara dengan Wi Dae Han membuat dia semakin tidak nyaman saja. Ia menutup telepon. Mae Ri berjalan keluar, ia tidak melihat Mu Gyul.

Ternyata pria itu sedari tadi disana, hanya saja tidak menyapanya. Mu Gyul hanya bisa mendesah panjang menlihat punggung Mae Ri menjauh. Ia menunduk lesu.

So Ra, Ji Hye dan teman-teman Mu Gyul bertemu di tempat biasa (tempat perayaan Natal mereka juga tempat seharusnya Mu Gyul dan Mae Ri bertemu malam itu). Mereka menghawatirkan hubungan Mae Ri dan Mu Gyul. Situasi diluar kendali, Direktur yang belum sadar juga, dan Mae Ri terus berada di Rumah Sakit mengawasi perkemangan Direktur. Ji Hye tahu, kecemasan Mae Ri. Situasi benar-benar telah membuat Mae Ri berada dalam kondisi serba salah. Teman-temannya bersimpati untuk itu. Mereka tidak memungkiri hubungan antara Mae Ri, Mu Gyul dan Jung In sangat pelik. Dan sayangnya, mereka tahu tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Mu Gyul pulang ke rumahnya dengan lesu. So Young disana, ia benar-benar sudah meninggalkan tempat Wi Dae Han. Setengah berlari So Young mendapati Mu Gyul dan menanyakan keadaan Jung In padanya. Mu Gyul tidak menggubrisnya. So Young membuatkan rebusan untuk Mu Gyul. Rasanya mengerikan tapi Mu Gyul terus memakannya. Ia teringat pada saat Mae Ri membuatkan rebusan yang sama untuknya. Rasanya benar-benar lezat, ia merindukannya. Itu adalah saat-saat bahagianya dengan Mae Ri. 180 derajat perbedaannya dengan saat ini.

So Young mencicipi masakannya, ia hampir muntah karenanya. Tapi Mu Gyul tetap makan dengan santai, ia langsung tahu putranya masih memikirkan Mae Ri.

“Kau benar-benar mencintai Mae Ri? Mungkin kelak kau akan bertemu wanita yang benar-benar menarik  dan membuatmu lebih baik. Saat itu, datanglah mencari Mae Ri dan perlihatkan kalau kau bisa hidup dengan baik”, So Young mencoba menghibur putranya. Tapi perkataannya justru membuat Mu Gyul merasa semakin sedih dan berusaha menahan air matanya. (Hahahah, aku sampai tertawa mendengar dialog ini. Dasar So Young. Scene yang seharusnya membuat terharu malah membuatku ngakak. Wakakakkaka…>> Maaf…maaf..).

JI Entertainment sedang sibuk, semua berusaha yang terbaik. Absennya direktur membuat setiap orang merasa wajib melakukan yang terbaik untuk perusahaan (Sepertinya Jung In berhasil menjalankan tugasnya sebagai Direktur, semua loyal padanya). Mu Gyul tiba dan melihat semua kesibukan itu. Tidak sengaja ia melihat dan mendengar percakapan Manager Bang dan Lee Ahn. Seperti biasa Manager menyebalkan itu tidak puas dengan produksi drama “Wonderfull Day”, Direktur belum sadar juga dan itu berarti jadwal mereka akan tertunda lagi. Lee Ahn mulai kesal, ia tidak suka dengan pandangan Manager Bang, ia meninggalkannya begitu saja.

Mu Gyul berlalu dan masuk ke ruang Jung In. Seo Jun disana, sedang sibuk mengurusi telepon, sepertinya ada sedikit masalah dengan sutradara. Ia ingin beralih prodksi. Sedikit marah Seo Jun mengatakan padanya kalau sekalipun Direktur sakit dan ia hanya seorang aktris dan Jung In adalah atasannya tapi ia juga adalah sahabat Direktur yang tahu dan akan melakukan yang terbaik untuk produksi mereka. Mu Gyul terus mengawasinya, Seo Jun akhirnya tersenyum, sepertinya sutradara bisa memahami maksudnya dan membatalkan niatnya untuk beralih produksi. Seo Jun berterima kasih. Ia lega.

Mu Gyul mengutarakan maksudnya, ia ingin keluar dari produksi drama. Jelasnya, ia ingin membatalkan kontrak kerja. Seo Jun terang saja kesal. Dia menyebut Mu Gyul pengecut. Ia mengingatkan tentang perpisahan mereka, mengatkan kalau dia selalu seperti ini. Yang membuatnya marah adalah Mu Gyul tidak datang padanya dan mengkonfirmasikan kecurigaannya (tentang hubungan Seo Jun dan sponsor), bukan memutuskan semuanya sendiri.

Sekarang Seo Jun dengan tulus berharap Mu Gyul tidak melakukannya pada Mae Ri. (Wow, aku suka Seo Jun yang seperti ini. Terlihat sebagai noona yang baik untuk Mu Gyul). Mu Gyul mendengarkan Seo Jun tanpa berkata apa-apa. Ia pergi.

Hari keempat dan Jung In masih belum sadarkan diri. Menurut dokter tidak ada alasan medis yang tepat untuk menjelaskan mengapa Jung In belum sadar, karena itu satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah menyarankan pada Mae Ri untuk mendorongnya untuk sadar. Tuan Jung datang menjenguk putranya.

Ia mendesak Mae Ri pulang untuk beristirahat, ia akan disana mengawasi putranya. Dengan enggan, ia akhirnya setuju. Mae Ri beringsut pulang.

Di luar ia bertemu Mu Gyul, mereka harus bicara. Keduanya duduk berhadapan di sebuah kafe di salah satu sudut Rumah Sakit.

Mae Ri berterima kasih pada Mu Gyul, ia juga minta maaf karena terlambat menyampaikannya. Ia sungguh tidak punya waktu setelah semua yang terjadi. Ia juga memuji OST drama yang begitu lembut. Ia mulai menyinggung perusahaan. Mu Gyul memotong ucapan Mae Ri, sepertinya pembicaraan mereka melebar kemana-mana.

Mu Gyul bertanya mengapa Mae Ri masih berada disana. Mae Ri menjelaskan bahwa apa yang menimpa Direktur adalah kesalahannya, Direktur terluka karena melindunginya. Mu Gyul memintanya berhenti sampai disitu, toh, tidak ada yang menuduh atau mempersalahkannya. Jika Jung In tidak sadar juga, Mae Ri masih tidak bisa meninggalkan Jung In, itu berarti mereka harus membuat keputusan sekarang juga. Memilih antara ia atau Jung In. Mae Ri memandang Mu Gyul, seolah tidak percaya pendengarannya. Ia berusaha tetap tenang.

Mu Gyul melanjutkan ucapannya. Ia meminta maaf telah menghindar dan bertingkah dingin pada Mae Ri, tapi ini adalah waktu untuk Mae Ri menjawab pertanyaannya. Mae Ri mencoba meminta Mu Gyul bersabar hingga Jung In sadar, setelah itu ia bisa datang pada Mu Gyul dengan bebas. Tapi Mu Gyul tidak bisa menunggu.

“Jika kau tidak bisa menjawabnya sekarang, nanti kaupun tidak bisa menjawabnya. Sekarang…, apakah aku atau dia..??”, ujar Mu Gyul. Pilihan itu seperti palu godam bagi Mae Ri. Ia jelas akan memilih cintanya, tapi nuraninya sebagai manusia juga tidak bisa meninggalkan Direktur. Pria itu terluka karena dirinya, bagaimana ia bisa setega itu meninggalkannya begitu saja setelah dirinya telah diselamatkan olehnya? Mae Ri tidak bisa menjawab, matanya mulai berkaca-kaca. Mu Gyul menerimanya sebagai penolakan, ia meninggalkan Mae Ri begitu saja. (Oh, My God!!). Sekarang Mae Ri mulai terisak….

cre:asrianiamir17.multiply.com🙂

2 thoughts on “Sinopsis Mary Stayed Out All Night Episode 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s